BAKALAN || buserindonews.com— Pemerintah Desa Bakalan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, menggelar rangkaian kegiatan sedekah bumi atau kabumi pada Minggu (30/8/2026). Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum peresmian Balai Desa Bakalan yang baru.
Rangkaian acara berlangsung sejak akhir pekan. Pada Sabtu malam (29/8/2026), masyarakat terlebih dahulu mengikuti pengajian umum yang digelar di Balai Desa Bakalan.
Memasuki Minggu pagi, kegiatan dilanjutkan dengan pentas seni dan budaya. Sementara itu, Minggu malam menjadi puncak rangkaian sedekah bumi melalui pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon “Semar Bangun Deso”.
Petinggi Desa Bakalan, Moh Sahal, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut sengaja disusun dengan memadukan unsur keagamaan, budaya, hiburan, serta kebersamaan masyarakat.
“Rangkaian acara ini memang kami susun tidak hanya untuk hiburan. Kemarin malam Sabtu kami awali dengan pengajian umum di Balai Desa. Kemudian malam ini menjadi puncak acara dengan wayangan semalam suntuk, dengan lakon Semar Bangun Deso,” ujar Moh Sahal.
Menurutnya, sedekah bumi menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus mempererat tali silaturahmi dan menjaga kekompakan warga.
Harapan kami, melalui kegiatan sedekah bumi ini rasa syukur masyarakat semakin kuat, silaturahmi semakin erat dan kekompakan warga tetap terjaga. Apalagi sekarang Balai Desa Bakalan juga sudah diresmikan, sehingga ini menjadi momentum bersama untuk menatap pembangunan desa ke depan,” katanya.
Moh Sahal juga menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat yang turut hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan.
Sementara itu, Andang Wahyu Triyanto yang hadir dalam rangkaian kegiatan Minggu pagi mengapresiasi pelaksanaan sedekah bumi yang melibatkan masyarakat secara luas. Menurutnya, kemajuan desa tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kekompakan dan partisipasi masyarakat.
“Yang paling penting dari kegiatan seperti ini bukan hanya kemeriahannya. Lebih dari itu, bagaimana masyarakat bisa berkumpul, bersilaturahmi dan membangun rasa memiliki terhadap desanya. Desa akan semakin kuat ketika pemerintah desa dan masyarakatnya berjalan bersama,” ujarnya.
Andang juga menilai perpaduan antara tradisi, budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut.
“Wayangan menjadi ruang untuk menjaga dan melestarikan budaya, sedekah bumi menjadi bentuk rasa syukur, sementara UMKM mendapatkan ruang untuk bergerak dan berkembang. Kalau semuanya bisa berjalan bersama, ini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi dan identitas Desa Bakalan,” katanya.
Ia berharap semangat kebersamaan yang terlihat selama rangkaian kegiatan dapat terus dipertahankan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Semoga kekompakan seperti ini terus terjaga. Karena pembangunan desa yang paling kuat adalah pembangunan yang lahir dari kebersamaan dan gotong royong warganya,” tutupnya.
Dengan rangkaian kegiatan tersebut, sedekah bumi Desa Bakalan tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkuat silaturahmi, melestarikan tradisi dan membangun semangat kebersamaan dalam mendukung pembangunan desa.
“AP”
















