Sumedang ||BI Harapan baru bagi para petani di Desa Ujungjaya, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang mulai terbuka. Wilayah ini mendapatkan bantuan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier / RJIT dari Kementerian Pertanian yang disalurkan kepada 16 kelompok tani.
Ketua Kelompok Tani Bhakti Usaha sekaligus Ketua Gabungan Kelompok Tani / Gapoktan Desa Ujungjaya, H. Adung Priatna, mengatakan masing-masing kelompok tani menerima anggaran sekitar Rp100 juta untuk pengerjaan RJIT.
“Semua pengerjaan dilakukan secara swakelola oleh masing-masing kelompok tani, tidak melalui pihak ketiga. Tenaga kerja dan tenaga ahli juga diupayakan dari anggota kelompok dan masyarakat setempat,” ujar Adung, Minggu (31/8/2026).
*Utamakan Kualitas, Bukan Keuntungan*
Menurut Adung, pola swakelola dipilih bukan untuk menghemat biaya, tetapi untuk memastikan kualitas jaringan irigasi yang dibangun kuat dan dapat digunakan jangka panjang.
“Intinya bukan proyek untuk mencari keuntungan. Yang penting hasilnya bagus, kuat, dan cukup. Dengan anggaran itu harus menghasilkan pekerjaan yang berkualitas,” tegasnya.
Pengerjaan RJIT mengacu pada petunjuk Kementerian Pertanian dan ditargetkan selesai pada Desember 2026. Namun jika kondisi memungkinkan, pekerjaan di tiap kelompok diperkirakan dapat rampung dalam waktu sekitar satu bulan.
Atasi Dampak Kerusakan Bendung Cariang ,Bantuan RJIT ini sangat dibutuhkan petani Ujungjaya. Selama ini jaringan pengairan terkendala akibat kerusakan Bendung Cariang yang menyebabkan sejumlah saluran irigasi tersumbat dan tidak berfungsi.
Saat ini Bendung Cariang tengah diperbaiki. Dengan mulai mengalirnya kembali air dari bendung, jaringan irigasi yang telah direhabilitasi diharapkan dapat langsung dimanfaatkan.
“Ketika air dari Cariang kembali mengalir, irigasi sudah siap dan tinggal digunakan. Mudah-mudahan yang sekarang dapat sekitar 100 meter bisa mendapat tambahan untuk dilanjutkan ke depan,” ungkap Adung.
*Dampak Ekonomi: Dari 2 Kali Jadi 3 Kali Tanam*
Adung berharap rehabilitasi irigasi dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Jika sebelumnya petani hanya mampu tanam padi 2 kali setahun, ke depan ditargetkan bisa 3 kali tanam.
Bahkan dengan ketersediaan air yang normal, petani juga dapat menanam palawija seperti mentimun dan kacang-kacangan di sela musim padi. Hal ini juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan menggerakkan UMKM desa.
“Palawija menyerap tenaga kerja. Jadi ada dampaknya terhadap UMKM, termasuk ibu-ibu yang sebelumnya tidak bekerja di pabrik bisa mendapatkan penghasilan,” katanya. Pompanisasi Selamatkan Panen Saat Kekeringan
Sebelum jaringan irigasi normal, petani mengandalkan pompanisasi. Desa Ujungjaya mendapat bantuan lebih dari 17 unit pompa, sementara tingkat Kecamatan Ujungjaya sekitar 36 unit pompa besar.
“Alhamdulillah, tanaman padi yang tadinya diperkirakan gagal panen, akhirnya seluruhnya bisa dipanen berkat bantuan pompa,” ujar Adung.
Ia mengajak seluruh pihak menjaga kondusivitas selama pengerjaan berlangsung. Jika ada kekurangan, diharapkan disampaikan melalui musyawarah agar segera diperbaiki.
“Yang penting pembangunannya berjalan kondusif dan hasilnya dapat benar-benar dimanfaatkan para petani,” pungkasnya.Ika
















