Bandung | |BI November 2024 – Hari ini, kita memperingati Hari Guru Nasional ke-30, bertepatan dengan HUT PGRI. Peringatan ini menjadi momentum penting untuk merenungkan kembali peran dan tanggung jawab guru dalam membentuk generasi penerus bangsa. Selama tiga dekade, guru telah berperan vital dalam melahirkan pemimpin-pemimpin di berbagai tingkatan, bahkan hingga tingkat nasional.
Kata “guru” sendiri menyimpan makna yang dalam. Dalam bahasa Sansekerta, “guru” berasal dari dua suku kata: “gu” (bayangan/gelap) dan “ru” (terang), yang berarti “pembawa terang.” Dalam bahasa Latin, kata tersebut bermakna “gravitas” (moralitas), sementara dalam bahasa Jawa, “guru” diartikan sebagai “di gugu lan di tiru” (dihormati dan ditiru). Secara umum, guru adalah pendidik, pengajar, dan pembimbing yang mengarahkan murid-muridnya.
Filosofi Ki Hadjar Dewantara, “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani,” merupakan pedoman ideal bagi seorang guru. Guru sebagai teladan di depan, pembangun gagasan di tengah, dan pendorong motivasi di belakang. Namun, di era digitalisasi dan modernisasi ini, nilai-nilai luhur tersebut terkadang terkikis. Krisis keteladanan, tidak hanya di kalangan guru, tetapi juga di lapisan masyarakat lainnya, menjadi tantangan yang perlu diatasi bersama.
Pertanyaannya, apakah guru masih mampu menjadi teladan yang ideal? Apakah guru masih mampu melahirkan ide-ide inovatif dan program pengembangan generasi bangsa? Apakah guru masih mampu menjadi motivator yang mendorong murid-muridnya untuk mencapai potensi terbaik? Refleksi diri sangat diperlukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Kita juga perlu menyadari bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru semata. Sejatinya, setiap orang adalah guru dan setiap rumah adalah sekolah. Kerjasama antara guru dan orang tua sangat penting untuk membentuk karakter dan kepribadian anak. Sayangnya, seringkali orang tua menitipkan sepenuhnya pendidikan anak kepada guru, sehingga peran orang tua dalam mendidik anak menjadi kurang optimal. Akibatnya, anak-anak hanya menerima pengajaran akademik, sementara aspek pendidikan karakter dan nilai-nilai moral kurang diperhatikan.
Semoga di Hari Guru Nasional ini, kita semua dapat kembali menghayati dan mengamalkan semangat Ki Hadjar Dewantara. Mari kita jadikan filosofi beliau sebagai ruh dalam dunia pendidikan, sehingga guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik yang utuh, membentuk generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia. Selamat Hari Guru Nasional!.ika
















