Jepara || buserindonews.com – Pengembangan Jepara sebagai poros maritim sangat realistis, didukung oleh potensi ekonomi berbasis maritim seperti perikanan dan mebel, serta sejarah panjangnya sebagai pusat niaga maritim.
Jepara memiliki luas bentang pesisir (garis pantai) terpanjang di pesisir pantai Utara Jawa, sekitar 82,73 Km.
Ada pelabuhan eksisting di Jepara, dan saat ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara dibawah kepemimpinan Bupati Jepara Witiarso Utomo sedang ada rencana konkret untuk membangun pelabuhan internasional baru sebagai pusat logistik dan distribusi.
Ketua Front Perjuangan Rakyat Miskin (FPRM) Kabupaten Jepara, Muhammad Mustavit menyatakan potensi ini juga didukung dengan minat investor seperti Pelindo.
Dan PT Pelindo (Persero) Cabang Semarang, serta perhatian terhadap pembangunan yang ramah lingkungan atau ekonomi biru.
“Jepara secara historis pernah menjadi pelabuhan penting di era Kerajaan Demak dan Ratu Kalinyamat.” Kata Mustavit.
Mustavit menyebut, Lokasinya yang strategis di semenanjung menjadikannya sebagai titik persinggahan pedagang.
Ia pun membeberkan, kalau Jepara memiliki kekuatan di sektor mebel, perikanan, dan pariwisata (termasuk Karimunjawa), yang semuanya berbasis maritim dan dapat mendukung ekosistem logistik pelabuhan.
Bupati Jepara Witiarso Utomo di awal periode tampak serius ada rencana untuk membangun pelabuhan internasional baru, salah satunya di Pantai Balong, sebagai pusat distribusi logistik.
Dan disisi lain, PT Pelindo (Persero) menunjukkan minat untuk mengoperasikan pelabuhan di Jepara, dan pemerintah daerah telah menyiapkan proyek dan siap berkolaborasi dengan investor untuk Studi Kelayakan (FS).
Proyek pelabuhan ini diharapkan tidak hanya fokus pada konstruksi, tetapi juga mengutamakan kajian lingkungan hidup (KLHS), audit karbon, dan pelibatan masyarakat pesisir yang rata – rata secara ekonomi jauh dari kesejahteraan, untuk pembangunan maritim yang cerdas dan berkelanjutan.
Mustavit mendorong perlu adanya kajian mendalam apakah pembangunan pelabuhan baru harus mendahului adanya arus kapal yang tinggi (Ship Follows the Port) atau menunggu adanya permintaan nyata dari kapal yang ada (Port Follows the Ship).
“Pembangunan pelabuhan harus memperhatikan dan mengontrol dampak terhadap ekosistem laut, termasuk pendalaman laut (dredging) dan aktivitas konstruksi.”ujarnya.
Jepara memiliki dua pelabuhan yang sudah ada: Pelabuhan Kartini untuk penumpang ke Karimunjawa dan Pelabuhan Jepara (Tanjungjati) yang lebih berorientasi pada energi dan industri, sehingga perlu adanya pelabuhan baru yang berfokus sebagai pusat distribusi logistik ekspor-impor.
(AP)
















