Sungailiat || buserindonesw.com – Pemuda dan Pemudi berasal dari Bangka Belitung mengikuti program Ausbildung yang merupakan Program dari Pemerintah Negara Jerman yang memberikan kesempatan pemuda/pemudi dari seluruh dunia untuk mengikuti Program Pendidikan dan Pelatihan Profesi selama (3),Tahun di Jerman ungkapnya Rabu (07/09/2022)
” Setelah lulus dari program ini, kamu mendapatkan ilmu, keahlian berkualitas standar Eropa dan sertifikasi keahlian standar Eropa yang diakui di seluruh dunia. Setelah memiliki ilmu, keahlian dan sertifikasi keahlian tersebut, kamu dapat dengan mudah untuk bekerja di Jerman atau bekerja di negara manapun terangnya,
Sudah jelas ya, bahwa Ausbildung itu program pemerintah Jerman bukan program pemerintah Indonesia.
” Hal tersebut disampaikan oleh Hengky yang merupakan inisiator penggerak yang ada di Bangka Belitung ini. Menurutnya program Ausbildung sudah lama. Ini adalah program dari Pemerintah Jerman untuk seluruh dunia. Orang-orang yang telah memenuhi klasifikasi.
Cuma kalau di Bangka Belitung saya yang memperkenalkannyaDengan adanya pioneer. Jadi kami tidak berani besar-besaran, kami coba anak-anak sekitar (7) orang dulu sekitar (3) tahun yang lalu,” terang Hengky.
” Menurut Hengky pada tahun 2019, mulai, Dirinya memberikan kesempatan anak-anak dari pelosok Babel, ada dari Toboali, ada dari Bencah, ada yang dari Sungailiat juga, juga ada dari Parit Padang. Laki-lakinya cuma (2) orang, sedangkan lainnya wanita ucap Hengki,
Syarat-syarat untuk masuk tes lulus penyaringan, minimal SMK, habis itu di tes dulu, psikologinya dan sebagainya. Kami bekerja sama dengan Yayasan pendidikan yang mempersiapkan anak ini supaya mereka siap mentalnya. Jadi kita jangan kirim-kirim saja. Nama yayasan pendidikannya Esa. Mereka punya kelasnya, punya guru-gurunya yang punya bahasa Jerman nomor satu,” jelasnya.
” Ia menilai, sebenarnya syaratnya mudah, bisa bahasa Jerman saja. Bisa berbahasa Jerman yang baik berangkat. Untuk program ini tidak dak ada kaitan pemerintah. Untuk parpor harus ikut aturan dari pemerintah, ada visa baru bisa berangkat. Perijinan yang lain tidak ada. Termasuk kementerian Luar Negeri tidak terlibat dalam pengiriman program Ausbildung ini terangnya,
Jadi begitu sampai negara tujuan anak-anak harus lapor ke KBRI kita di jerman. Jadi mereka ini dibilang student bukan, pekerja bukan dan karena mereka magang. Kalau dari yayasan pasti mengirim data anak-anak (KBRI) Kami selalu pantau, orang-orang tua mereka selalu kumpul, bisa sharing dengan yang lainnya,” ucapnya.
” Dijelaskannya, Kebetulan dirinya bekerja sama dengan Yayasan Esa untuk kepengurusan visa dan paspor sebagainya dimudahkan.
Saya memperkenalkan program ini susah banget, susah benar orang untuk percaya program ini. Saya tidak mau terikat dengan institusi apapun. Saya bebas. Tidak ada bantuan dari siapapun. Untuk keberangkatan mengikuti program Ini, murni swadaya dari muridnya sendiri, dari donatur juga sedikit,” ujarnya.
” Sementara itu, Ibu Siska (60) yang tinggal di Pangkalpinang. Merupakan orang tua dari Glenn Tarnot (25) dan Grace Tarnot (23). Anaknya yang sudah berangkat ke Jerman dan mengikuti progam Ausbildung ini.
Menurutnya, setelah adanya program Ausbildung ini, dirinya bersyukur kepada Tuhan karena kalau berdasarkan kemampuan manusia biasa tidak mungkin bisa mengirimkan dua orang anaknya pergi ke Jerman, apalagi dengan membutuhkan dana yang cukup besar. Sekitar (55) juta per orang.
Namun dengan adanya program Ausbildung program dari jerman, sistem mereka adalah belajar dan bekerja, anak-anak saya bisa berangkat ke jerman. Dan ada yang bekerja dan belajar. Yang laki-laki sudah dari tanggal (2) juni kemarin berangkat. Kalau yang perempuan baru tanggal (20) agustus kemarin. Dan mereka dikontrak selama (3) tahun,” ucapnya dengan nada gembira.
” Lain halnya dengan Ibu Lorin (55) yang tinggal di Pasir Putih Pangkalpinang, Orang tua dari Riski Cristian (24). Juga mengikuti program Ausbildung ke, Jerman dari tanggal (18) April yang lalu.
Dikatakannya, kegiatan Ausbildung ini merupakan kegiatan mencari kerja sekaligus magang di Jerman. Dirinya sangat bersyukur dengan program ini di bawah Yayasan Esa, Yayasan Esa yang mempersiapkan anak-anak saya berangkat ke Jerman,
Kebetulan pembina yayasan Esa itu pernah tinggal di jerman, sehingga dia punya banyak channel, banyak jaringan sehingga anak-anak bisa kerja, bisa belajar di sana. Sehingga kalaupun anak-anak kita ke sana sudah disiapkan. Program ini sebenarnya hanya (3) tahun,” ungkapnya.
” Ia menilai, anaknya sudah berangkat pada tahun 2019 disaat sebelum pandemi karena pandemi tempat mereka ujian maupun tempat pengurusan mereka berangkat juga tutup, sehingga anaknya yang akan berangkat memakan waktu cukup lama, dan magang disana selama (3) tahun.
Yayasan Esa ini benar-benar kami percaya sekali, karena mereka mempersiapkan generasi muda Indonesia untuk berangkat secara matang. Ada (5) hal di terapkan oleh pemerintah jerman yang membuat kami orang tua tidak ragu, pertama tidak narkoba, tidak merokok, tidak menggunakan sosmed, tidak boleh pacaran, dan taat aturan agama. Walaupun hal itu sebenarnya tidak bisa dibatasi, tetapi karena adanya aturan anak kami tidak bisa bebas,” pungkasnya. (Imron)
















