Tingkatkan Perekonomian Masyarakat Kades Mekarsari Purwakarta Kembangkan Pertanian Palawija Dan Holtikultura

BUSER INDONESIA || Purwakarta ~ Berangkat dari latar belakang keluarga petani, Kepala Desa Mekarsari Kecamatan Darangdan Kabupaten Purwakarta, Ruhiat selain sebagai menjadi Kades dalam menjalankan roda pemerintahan Desa, juga bergelut dalam mengembangkan pertanian palawija dan holtikultura, hal itu disampaikannya pada kami red Media Buser Indonesia Biro Purwakarta, Senin 18 April 2023 di lokasi di mana beliau menanam tanaman tersebut.

“Berawal dari kebiasaan bercocok tanam jauh hari sebelum menjadi kepala Desa, hal ini saya manfaatkan untuk mengolah lahan tidur milik masyarakat dengan cara disewa, lalu kami manfaatkan tanah tersebut untuk digarap menjadi lahan pertanian palawija dan holtikultura yang produktif yang bisa bernilai guna dan dapat meningkatkan kesejahteraan warga, “tuturnya.

Adapun jenis dari tanaman palawija yang ditanam diantaranya jagung, ketela, pohon, ubi jalar, kacang tanah, kemudian jenis dari tanaman holtikultura adalah: cabai keriting, tomat, terong, lobak dan tanaman sayuran lainnya.

“Tanaman yang saya tanam bersama warga adalah tanaman palawija dan holtikultura, hal tersebut dilakukannya untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan warga khususnya para petani yang menggarap lahan dimaksud, dan ini Alhamdulillah usaha ini sudah berlangsung sejak saya menjabat sebagai kades Mekarsari,” sambungnya.

Melihat wilayah di Desa Mekarsari banyaknya lahan pertanian tadah hujan dan hanya bisa diari air lewat irigasi semi tersier hanya di musim penghujan saja, para petani hanya bisa bercocok tanam padi satu kali dalam setahun.

Ruhiat berinisiatif dengan memanfaatkan lahan warga tersebut untuk ditanami tanaman palawija dan holtikultura.

Konsep pengembangan pertanian ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh kades Mekarsari dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan keluarganya serta warganya.

Desa Mekarsari adalah wilayah pedesaan, sehingga dengan semakin meningkatnya produktivitas petani dalam kegiatan pertanian tersebut, diserap oleh warga, baik itu tenaga kerja, maupun sumberdaya alam yang ada.

Pengembangan wilayah tidak lepas dari kajian terkait aspek yang mendukungnya, salah satunya adalah penentuan komoditas unggulan. Beberapa hambatan yang dapat memperlambat perkembangan dari percepatan pertumbuhan, antara lain adalah kurang optimalnya pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya manusia sebagai keunggulan komperatif dan keunggulan kompetitif untuk menghasilkan produk pertanian unggulan.

“Komoditas unggulan merupakan komoditas yang memiliki nilai strategis berdasarkan pertimbangan fisik (kondisi tanah dan iklim) maupun sosial ekonomi dan kelembagaan (penguasaan teknologi, kemampuan sumber daya manusia, infrastruktur,

kondisi sosial budaya) untuk dikembangkan di suatu wilayah. Keberadaan komoditas unggulan pada suatu daerah dapat memudahkan upaya pengembangan agribisnis.

Penentuan komoditas unggulan dirasa sangat penting, karena dengan diketahuinya komoditas unggulan maka fokus pengembangan terhadap komoditas tersebut menjadi prioritas. Namun demikian, hal tersebut tentunya tidak mengabaikan komoditas non unggulan lainnya. Selain itu, dengan fokus pada pengembangan komoditas unggulan dapat diupayakan meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.

Hal ini tentunya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para petani dan masyarakat sekitarnya.” Imbuhnya.

Ada beberapa kendala dan mengalami kegagalan dalam bercocok tanam ini, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan tentang bagaimana cara pemupukan yang benar, cara pengendalian hama yang tepat. Tapi ini tidak berlangsung lama, mengingat Ruhiat mendatangkan seorang petani senior yang berpengalaman sebagai tenaga ahli di bidangnya, yaitu dari Wanayasa Purwakarta.

“Saya pernah mengalami kegagalan walaupun kegagalannya tidak patal, hal ini mungkin dikarenakan dalam proses pemupukan dan pengendalian ham yang kurang tepat, sehingga produksi yang dihasilkan tidak maksimal. Untuk itu saya berinisiatif mendatangkan tenaga profesional, dan Alhamdulillah pada masa tanam berikutnya ada peningkatan yang signifikan, tapi saya tatap berupaya dalam pemupukan tidak terlalu ketergantungan kepada pupuk non organik walupun saat ini baru yang menggunakan pupuk organik dari kotoran hewan dan kompos, mudah mudahan kedepannya nanti bisa memakai pestisida alami untuk mengendalikan hamanya.”, jelasnya.

Seperti tanaman tomat dan cabai keriting yang menjadi komoditas utama yang diprioritaskan untuk ditanam.

Ada beberapa varietas seperti Tomat servo F1 adalah bibit tomat varian baru yang bisa dikembangkan petani di dataran rendah. Selain memiliki kualitas buah yang lebih besar, tomat Servo F1 lebih tahan terhadap serangan hama.

“Tomat Servo F1 sangat cocok ditanam dataran rendah dengan cabai merah varietas lado dan kering dan ternyata sangat menguntungkan.’ kata Ruhiat.

Di atas lahan sekitar 1,5 Ha, Kades Ruhiat ini menanam kurang lebih ada sekitar 12.000 batang pohon cabai dan 5000 batang pohon tomat, sisanya ditanami tanaman palawija. Dalam minggu ini tomat dan cabai sudah bisa dipanen secara bersamaan, ujar pria berdarah asli Sunda ini.

Menurutnya, dirinya hampir tidak yakin tomat mampu tumbuh dengan bagus di kawasan dataran agak rendah, tidak seperti halnya yang ditanam seperti di daerah Bojong, Pasawahan dan Wanayasa. Bahkan, semula mustahil bagi Ruhiat tomat mampu bersanding dengan tanaman cabai merah. Karena selama ini yang diketahuinya petani selalu menanam cabai merah tanpa ada tanaman lainnya, begitu pula terhadap tomat. Setelah mendapat penyuluhan dan petunjuk teknis dari seorang petani senior yang sengaja Ruhiat datangkan dari luar daerah, akhirnya ini bisa berhasil.

“Mengingat masa tanam tomat 60 hingga 65 hari baru bisa dipanen dan cabai merah mencapai tiga bulan, maka penanaman cabai lebih dahulu dilakukan agar panen dapat bersamaan,” kata Ruhiat.

Ruhiat menanam tomat di dataran rendah ini memprediksi bakal untung besar saat panen nanti. Dari modal yang dikeluarkan sebesar Rp 30 juta untuk sewa lahan, mengolah lahan, membeli mulsa serta obat-obatan tanaman, dari buah tomat saja diprediksi sedikitnya 17 ton, karena dalam satu pohon bisa menghasilkan buah 2,5 – 3 kg.

Untuk pemasarannya saat ini baru dipasarkan ke pasar induk yang ada di Jawa Barat, seperti pasar induk Cikopo Cikampek dan Pasar induk Caringin Bandung. Untuk harga menyesuaikan harga pasaran. Kedepannya kata Ruhiat, ia akan memasarkannya ke pasar pasar swalayan dan memakai kemasan yang berbeda, dengan melibatkan warga sekitar sebagai pekerjanya, untuk menambah penghasilan warga yang bisa meningkatkan taraf kehidupannya.

Kemudian dari tanaman pohon cabai merah yang akan dipanen, menurut Ruhiat, “minimal dalam satu pohon terdapat 2 ons dan bila dikalkulasikan 5.500 batang pohon sudah mencapai 1,1 ton. Keuntungan bercocok tanam tumpangsari tomat dan cabai merah ini tentu menggiurkan,” ujarnya.

Bagi Petani yang belum berpengalaman dengan budidaya tanaman cabai akan selalu dihadapkan dengan masalah yang menakutkan yaitu keriting pada daun cabai, masalah ini menyebabkan nutrisi tidak bisa diproses secara sempurna, tanaman tidak tumbuh lebat, daun adalah tempat tanaman memasak makanan. Jika daun tanaman bermasalah, maka tanaman tersebut akan sulit memproses makanannya sendiri, selanjutnya produktivitas tanaman menurun keadaan ini dapat merugikan petani bahkan dapat mengakibatkan petani gagal panen, karenanya diperlukan pengetahuan mengenal bentuk keriting daun cabai dan mengenal serangganya.

Selain disebabkan oleh kekurangan asupan air lebih sering disebabkan oleh gangguan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) berupa hama, setidaknya ada tiga hama penting yang serangannya dapat menyebabkan daun cabai keriting yaitu Thrips, Tungau dan Aphids.

Ketiga hama yang sering menyerang tanaman cabai petani di Tembilahan ini tergolong jenis hama kutu, hama-hama ini dapat menyerang sepanjang musim, dimanapun tanaman berada dan menyerang semua jenis tanaman cabai.

Hama Thrips, Tungau dan Aphids memiliki cara menyerang tanaman cabai yang hampir sama, namun gejala serangan dan akibat serangan sangat berbeda.

Serangan dari ketiga jenis kutu—kutuan tersebut sama-sama menyebabkan keriting dan mengerut pada daun cabai. Akan tetapi jika kita cermati secara seksama akibat serangan ketiga hama sangat berbeda.

1. THRIPS (Thrips Tabacci).

Tanda-tanda;

Adalah hama kutu yang mengisap pucuk daun berukuran tubuh sangat kecil ( Panjang 1-1,2 mm), Berwarna hitam dengan bercak merah,

Trip dewasa memiliki sayap dan rambut pada tubuhnya, nimfa (hewan muda tidak memiliki sayap dan berwarna kekuningan,

Hama thrips berada pada permukaan daun bagian atas,

Pada musim hujan hama trips berlindung di bagian bawah daun. Hama Thrip memiliki mobilitas (pergerakan) yang sangat tinggi, mampu meloncat ke tanaman lain, Hama thrips dapat dilihat dengan kasat mata pada bunga-bunga tanaman cabai dan di atas permukaan daun cabai, Thrips menyerang dengan cara menghisap cairan pada daun tanaman cabai.

Gejala Serangan Thrips;

Trips menyerang daun cabai yang masih muda atau pucuk daun, Daun cabai menjadi keriting, mengkerut dan melengkung ke atas, Daun cabai yang terserang thrips berwarna keperakan, dan mudah rontok,

Juga merontokkan bunga dan akhirnya dapat penurunan produktifitas, mudah diketahui ialah timbul garis atau bercak putih mengkilap pada daun, lama kelamaan berubah menjadi kecoklatan dengan bintik hitam.

Pengendalian hama Thrips;

Sanitasi lahan atau pembersihan gulma pengganggu, gunakan mulsa plastik hitam perak, atur jarak tanam sehingga tidak terlalu rapat, tidak menanam bekas tanaman cabai, tomat, bawang merah, jeruk, dan tanaman lain yang disukai thrips,

jauh dari lokasi tanaman cabai lainnya, atau buat tanaman pembatas seperti jagung, tanaman refugia atau tanaman lainnya sebagai tanaman perisai berpindahnya hama, aplikasi akarisida yang berbahan aktif Abamectin misalnya Demolish, agrimax, bamex, calebtin, atau alfamex.

Pemulihan tanaman yang telah sembuh dari serangan hama thrips yang dapat dilakukan dengan pemupukan dan penyemprotan zat perangsang tumbuh seperti GA3, Atonik, atau pupuk daun.

2. TUNGAU (Mites)

Tanda-tanda;

Tungau berukuran tubuh sangat kecil dan memiliki delapan kaki,

Tungau berwarna kuning dan warna merah (sering tungau warna kuning) berada di bawah permukaan daun, Tungau dapat meluas dengan cepat pada musim kemarau (suhu 280C) hama tungau lebih cepat berkembang biak. Seekor tungau betina tunggal berkembang biak hingga satu juta ekor tungau selama satu bulan, telur tungau dapat menetas dalam waktu 3 hari kemudian menjadi dewasa setelah berumur 5 hari, Dapat bertahan hidup 2-4 minggu, menghisap jaringan mesofil sehingga menghambat fotosintesis pada cabe.

Saepul Bahri, S.Ag

Tinggalkan Balasan