Daerah  

Peredaran Tramadol dan Eksimer Tanpa Ijin di Wilayah Hukum Banyusari Karawang Ancam Generasi Muda

Karawang || buserindonews.com – Adanya penjualan obat keras seperti Tramadol dan Excimer di wilayah jalan Jln raya pasar krasak banyusari karawang, wartawan buserindonews.com bersama teman awak media online ketika menyambangi salah satu toko berlokasi krasak diduga menjual obat-obatan tersebut.

Obat-obatan berdosis keras yang seharusnya menggunakan resep dokter, akan tetapi di jual bebas tanpa pengawasan dari pihak manapun untuk diketahui obat-obatan yang termasuk golongan obat keras, yang hendak dijual harus resmi dengan pengawasan, justru ini ditemukan oleh beberapa awak media buserindonews.com beredar dengan bebas, yang melalui penjual atau distributor, yang memang tidak memiliki lisensi penjualan obat keras.

Pengawasan dari pihak penegak hukum yang ada di wilayah Polsek banyusari sangat diperlukan, sebagai benteng pertama pemberantasan penyalahgunaan obat keras, seperti Tramadol dan Exsimer yang bisa membahayakan anak-anak muda apalagi seperti anak sekolah yang bakal melanjutkan bangsa ini untuk kedepannya.

Ketika di konfirmasi oleh awak media dari salah satu anak muda yang membeli obat excimer dan tramadol yang berinisial IN menjelaskan.

“Saya membeli obat ini agar tenang bang, dan saya juga sering membeli obat ini seminggu dua kali bersama teman-teman saya, sekalipun di larang kita membelinya umpet-umpetan biar ga ketahuan, bukan saya saja yang beli, banyak anak muda dari luar juga membeli obat obatan seperti ini, disamping harganya murah, bermanfaat juga buat saya agar pikiran saya jadi tenang,”ujarnya.

“Disamping itu kalau saya kaga minum obat itu badan saya rasa sakit semua bang, seperti pegel-pegel gitu lah bang,”ucapnya.

SANKSI PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA PENGEDAR SEDIAAN FARMASI TANPA IZIN EDAR

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, membawa masyarakat pada suatu tatanan hidup yang serba cepat dan praktis. Keberhasilan yang dicapai dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tentu saja membawa suatu negara pada kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya.

Namun tidak dapat dipungkiri kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi diringi dengan meningkatnya penyimpangan dan kejahatan dibidang ekonomi dan sosial.

Tindak pidana merupakan suatu bentuk perilaku penyimpangan yang hidup dalam masyarakat, yang artinya tindak pidana akan selalu ada selama manusia masih ada di muka bumi ini.

Hukum sebagai sarana bagi penyelesaian problematika ini diharapkan dapat memberikan solusi yang tepat. Salah satu kejahatan dalam hukum kesehatan yang marak terjadi pada saat ini adalah kejahatan dibidang farmasi yaitu pengedaran sediaan farmasi tanpa izin edar atau tidak terdaftar di Badan Pengawasan Obat Makanan RI.

Pengaturan mengenai tindak pidana pengedar sediaan farmasi tanpa izin edar diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan. yaitu dalam Pasal 386 ayat (1) KUHP yang berbunyi “Barangsiapa menjual, menawarkan atau menyerahkan barang makanan atau minuman atau obat, sedang diketahuinya bahwa barang-barang itu dipalsukan dan kepalsuan itu disembunyikan, dihukum penjara selama-lamanya empat tahun”

Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 8 ayat (1) butir a “Pelaku usaha di larang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standard yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan; sedangkan ketentuan tindak pidana nya diatur dalam pasal 62 ayat (1) “ Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8, pasal 9, pasal 10, pasal 13 ayat (2) pasal 15, pasal 17 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c huruf e, ayat (2), dan pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 2.000.000.000,00 ( dua miliar rupiah)

Lebih lanjut Undang – Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 106 ayat (1) “ Sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah mendapat izin edar”. Ketentuan mengenai tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi diatur dalam Pasal 197 sebagai berikut “ Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.1.500.0000.0000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).”

Ketentuan pidana yang diatur dalam peraturan undang-undangan bertujuan untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan atau penyimpangan dalam menggunakan sediaan farmasi/alat kesehatan yang dapat membahayakan masyarakat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Walaupun tindak pidana pada Pasal 386 KUHP terdapat beberapa kelemahan, hanya mengatur mengenai perbuatan melawan hukum pendistribusian obat palsu (menjual, menawarkan, atau menyerahkan) sedangkan untuk pelaku yang memproduksi obat palsu belum diatur secara jelas dalam Pasal 386 KUHP. Dengan tidak diaturnya mengenai produsen obat palsu maka terdapat kesulitan dalam menindak para produsen obat palsu, selain itu sanksi yang diberikan dalam KUHP juga masih terlalu ringan yaitu berupa ancaman pidana penjara maksimal empat tahun, dan tidak ada sanksi mengenai denda, padahal keuntungan yang besar dan kerugian yang ditimbulkan bagi para konsumen obat juga tidaklah sedikit.

Selanjutnya pada pasal 63 ayat (1) , Undang undang No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen pelaku tindak pidana di kenai ancaman pidana penjara selama 5 (lima ) tahun namun dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan pada Pasal 197, ancaman tindak pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp. 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah) dan Pasal 201 ayat (1) dalam hal tindak pidana dimaksud dalam 190 ayat (1), pasal 191, pasal 192, pasal 197, pasal 198, pasal 199 dan pasal 200 dilakukan oleh korporasi selain pidana dan denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1), pasal 191, pasal 192, pasal 197, pasal 198, pasal 199 dan pasal 200 . Sehingga dengan berlakunya Sanksi pidana bagi pelaku pengedar sediaan farmasi tanpa izin edar hendaknya berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang kesehatan, karena sanksi pidananya lebih berat dibandingkan dengan KUHP dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen. ( Ahmad S / Team )

Tinggalkan Balasan