BUSER INDONESIA || Purwakarta ~ Irigasi adalah sarana yang sangat vital untuk menyalurkan air dari hulu ke hilir, dan peruntukan yang utama untuk mengiri lahan pertanian.
dok.istimewa, wilayah yang terdampak kekeringan dan dan saluran irigasi teknisnya tidak layak
Pengelolaan Irigasi secara teknis kembali dikembalikan lagi kepada Perum Jasa Tirta II, dengan tetap berkoordinasi melibatkan para petani yang tergabung dalam wadah GP3A/P3A diantaranya GP3A,/P3A yang ada wilayah di wilayah D.I Cisomang, sebelumnya ada program PKPI dan sudah ada payung hukumnya, serta sudah disosialisasikan sekitar tahun 2002-2004, secara bertahap pengelolaan irigasi Sekunder akan diserahkan kepada Lembaga GP3A (Gabungan Petani Pemakai Air) berdasarkan referensi Instruksi Presiden No.3 Tahun 1999 tentang Pembaharuan Kebijakan Pengelolaan Irigasi (PKPI), namun kemungkinan belum ada pelimpahan kepada pihak GP3A ada pertimbangan lain menyangkut pengelolaan teknis dan aset, tetapi untuk petani pada umumnya tidak mempermasalahkan, siapapun yang mengelola, yang penting sarana irigasinya bagus dan airnya lancar.
Dok. Istimewa. (Saepul) ok
Di wilayah D.I Cisomang ada 3 GP3A, salah satunya GP3A Guna Tirta Raharja, adapun sektor wilayah kerjanya meliputi dari mulai B.Gs.1 s.d B.Gs 8 dan disalurkan kembali air tersebut ke saluran tersier yang pengelolaannya oleh mitra cai atau P3A (Perhimpunan Petani Pemakai Air).
Para petugas lapangan dari PJT 2 Purwakarta.
Pada musim tanam kali ini banyak petani yang menjerit akibat dari sawahnya tidak bisa terairi oleh air irigasi, dan hujan pun belum ada turun. Kemarau kali ini diperkirakan baru 1 bulan, namun debit air sudah sudah berkurang 60%, di mana normalnya debit air di irigasi tersebut sekitar 2000 m3/d dan kini menyusut menjadi 900 m3/d, sedangkan areal sawah yang perlu aliran air diperkirakan ada 120 HA, tetapi kalau seandainya air yang masuk mulai B.Gs1 sampai B.Gs.2 tidak banyak mengalami kebocoran, kemungkinan padi para petani bisa terselamatkan, karena dari debit air yang masuk sekitar 900 m3/d di perkirakan air yang terbuang ada sekitar 450 m3/d.
Poto. Kegiatan kerja bakti para petani perbaikan saluran irigasi
Kerusakan ini yang mengakibatkan kebocoran ini ada beberapa faktor, antara lain, sudah belasan tahun tidak ada perbaikan lagi jaringan irigasi tersebut, kemudian kualitas dan kuantitas pengerjaannya tidak maksimal, dan juga tingkat pemeliharaan tidak kontinyu baik oleh pihak PJT II maupun oleh GP3A, serta masih ada masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan dengan membuang sampah rumah .ke saluran irigasi.
Saat kami wawancarai Bpk. Iyan selaku petugas lapangan dari PJT II, Kamis 03/08/2023, sekira pukul 10. 00 WIB dilokasi kegiatan swadaya perbaikan sementara yang dilakukan oleh para petani, dimana ada sekitar 50 orang petani dan pengurus GP3A maupun P3A yang ikut dalam gotong royong secara swadaya, perbaikan sementara ini, adapun alat yang digunakan hanya pacul dan garpuh, dan karung yang diisi tanah yang ada disekitar lokasi.
“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperlancar mengalirnya air, dan meminimalisir tingkat kebocoran” kata dia.
Kemudian Bpk. Acun juga sebagai petugas lapangan lainnya, saat kami tanyakan terkait apakah petugas di lapangan sudah menyampaikan terkait permohonan perbaikan saluran tersebut?, jawabannya,” Terkait hal tersebut saya sudah sampaikan kepada atasan saya, mudah mudahan bisa direalisasikan secepatnya,” tuturnya..
Para petani yang tergabung dalam wadah GP3A dan P3A, meminta kepada pemerintah melalui PJT II dan PSDA Jabar untuk memperbaiki jaringan irigasi tersebut, hal Tersebut tersebut disampaikan oleh H.Yono salah satu ketua GP3A Guna Tirta Saluyu, yang kebetulan waktu itu ada dilokasi kegiatan.
” Saya selaku Pengurus GP3A mewakili semua petani yang tergabung dalam semua GP3A dan juga P3A, baik dari GP3A Guna Tirta Saluyu, maupun dari GP3A Guna Tirta Raharja serta GP3A Guna Tirta Rahayu,, meminta kepada pihak terkait agar respon terhadap kebutuhan air untuk pengairan sawah,” imbuhnya.
Lanjut Yono,” bagaimana kebutuhan air akan terpenuhi, sedangkan sarananya sendiri sudah tidak layak alias ruksak, untuk itu agar secepatnya pemerintah segera membangun/memperbaiki kembali saluran tersebut,” tuturnya.
Menurut Hendi salah seorang dari pengurus GP3A Guna Tirta Raharja, kalaupun nanti akan ada pembangunan kembali menggani bangunan saluran sekunder yang sudah ruksak agar benar benar pekerjaannya maksimal.
“Saya berharap bilamana nantinya saluran ini akan dibangun kembali dari Anggaran Negara, supaya bangunan yang dihasilkan kualitas dan kuantitasnya sesuai harapan, agar pihak yang dipercaya mengerjakan proyek tersebut amanah serta diawasi oleh tenaga ahli di bidangnya, serta konsisten pada pekerjaannya, hal ini demi menjaga stabilitas ketahanan pangan menyangkut kebutuhan akan bahan pokok dan hajat keberlangsungan hidup manusia, dan saya berkeyakinan kalau pekerjaannya asal asalan, alias hanya mengejar keuntungan proyek melebihi ketentuan, dapat dipastikan bangunannya tidak akan bertahan lama dan akan bocor,-bocor kembali. akuntabilitas, keterbukaan dan transparansi jangan cuma selogan,” cetusnya, sambil tersenyum.
Sementara Anggota DPRD Kab. Purwakarta dari fraksi PDI Perjuangan Davil VI, H.Ujang Rosadi yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari lokasi jaringan irigasi tersebut, saat kami hubungi via WA, red BI, (kamis , 03/08) sekira pukul 20.00 WIB untuk meminta solusi terkait permasalahan tersebut, beliau menyampaikan, bahwa ikut prihatin terkait kebutuhan air yang mengalir melalui saluran irigasi sekunder tersebut, khususnya bagi para petani yang mayoritas menanam padi.
“Saya selaku anggota DPRD Kab. Purwakarta ikut perihatin akan menurunnya debit air di musim kemarau, apalagi banyak kebocoran air dari saluran irigasi sekunder tersebut, sehingga airnya terbuang dengan sia – sia, -mengingat kebutuhan air untuk masyarakat terhambat, apalagi kebutuhan air irigasi yang peruntukan utamanya untuk pertanian, yang meliputi areal di 2 Kecamatan, yaitu kecamatan Darangdan B Dp 1-7 dan kecamatan Plered B.Gs 1- 8, kemungkinan kalau kondisinya seperti ini diperkirakan banyak yang gagal panen,” imbuhnya.
Lanjutnya, ” namun saya sudah berusaha semaksimal mungkin menyampaikan kepada pihak pihak terkait, diantaranya PJT Jatiluhur, Dinas PSDA Jabar dan pihak fihak lainnya, untuk memperbaiki saluran tersebut. Adapun terkait kewenangan penganggaran untuk perbaikan serta teknis lainnya pihak kabupaten melalui instansi terkait dan pihak Pemprov Jabar salah satunya instansi yang turut ikut andil akan hal itu adalah PSDA Jabar. Kalau tidak diperbaiki akibat kebocoran saluran tersebut, dipastikan yang gagal panen musim ini cukup banyak, salah satu faktornya akibat airnya terbuang begitu saja melalui bangunan saluran yang sudah keropos/bocor-bocor (Mubadzir) ke saluran Calibur, dimana saluran Calibur merupakan saluran semi/Non teknis, kalau dilihat dari segi pemanfaatannya tidak begitu diperlukan, dan peruntukannya pun bukan mengambil air dari saluran B.Gs tersebut atau mengalirkannya ke saluran tersebut. Saya berharap agar pihak terkait secepatnya bisa memperbaikinya, untuk meminimalisir areal sawah yang kekeringan ” tutup H.U Rosadi.