Blora ll buserindonews.com – Kisah nama jalan kampung yang ada di desa Nglarohgunung, kecamatan Blora, kabupaten blora. Berawal dari kebaikan insan yang tidak mau di beli tanahnya.
Salah satu putra bapak Soerodjo, yang sekarang ini berdinas di kepolisian wilayah Blora, menceritakan kisah orang tuanya pada hari Kamis, 31/01/2024.
Bapak Surodjo adalah mantan Kades Nglarohgunung, yang suka berbagi dan suka bersosial. Dalam hal ini terkait tentang jalan Desa, berbagi jalan perumahan, dan berbagi tempat balai desa.
Dalam hal ini tentang asal-usul nama jalan tersebut berawal dari senangnya orang lain kepada Mantan kades Nglarohgunung, karena sudah di beri tanah gratis untuk akses jalannya.
Putra bapak Soerodjo itu menceritakan, berawal dari asal-usul nama jalan itu berawal dari pertama saya yang menempati tanah itu, terus ada warga baru, ikut menempati juga, terus akhirnya ada pak sulistoyo itu. Pak Sulis itu tinggalnya di Bangkle, kebetulan punya tanah dibelakang lahan rumah saya, dan lahan pak Sulis itu tidak punya akses jalan keluar dan dari jalan kira-kira ya 100 meter lebih. Karena niatnya baik mau minta jalan, akhirnya di tanyalah sama bapak saya, bapak Soerodjo, beliau bertanya kepada pak Sulis mau dibuat, apa? katanya mau digunakan untuk tempat tinggal untuk sekeluarga, dan untuk kebaikan bersama dan akhirnya bapak saya itu, dengan ikhlas memberi jalan tersebut.
Putra bapak Soerodjo mengatakan “Dengan dibangunnya jalan itu, untuk kebersamaan dan kebaikan, akhirnya pak Sulis itu merasa senang. Dan karena bapak saya itu tidak mau dikasih uang atau diganti rugi, dan akhirnya pak Sulis itu. Memberi jalan tersebut dengan nama jalan, nama bapak saya “Soerodjo Merdeka,” dan plang nama itu sampai sekarang masih ada.” Jelasnya.
Lanjut putra Soerodjo menambahkan untuk jalan yang tidak mau dibeli pak Sulis itu dan selanjutnya dihibahkan oleh bapak, untuk panjang dan lebarnya Dari depan itu sekitar kurang lebih, 100 meter ya kurang lebih, lebih sedikit. Lebarnya sekitar 4 meter.
“Pokoknya digunakan untuk fasilitas umum silahkan, yang menggunakan warga sekitar, silahkan. Dan juga memudahkan orang untuk ke ladang, Monggo digunakan.” tambah putra pak Soerodjo.
Dan bapak itu pernah meminta, istilahnya mengemis kepada seseorang warga keturunan asli. meminta tanah warga asli, agar tanahnya bisa dijadikan untuk jalan. Bapak sampai merelakan mengemis meminta jalan, ke warganya, demi untuk semua warganya bapak, bisa lewat jalan yang enak. Dari asal jalan setapak, sekarang menjadi dibikin aspal itu, itu rintisan bapak. Memang bapak jiwanya sepertinya senang bersosial.
Disinggung terkait tanah balai desa Nglarohgunung bisa menjadi sengketa, sampai sekarang, asal muasalnya berawal dari, mana?
Putra Soerodjo menjelaskan bahwa dulu itu ceritanya, waktu itu saya masih kebetulan anggota kepolisian, saya dinas di sumatera, waktu itu saya pulang dari Sumatra pindah ke pulau Jawa sekitar tahun 2008, bapak saya mau meluruskan masalah tanah balai desa, karena tanah balai desa itu dibeli dari ibu tarsih, kemudian sampai sekarang belum diganti rugi atau istilahnya di tukar guling. bapak saya pernah berpesan kepada saya dengan adik saya anaknya Mbah Soerodjo, karena dikira dari bapak saya, saya dan adik saya ini, sudah mapan dan sudah berkeluarga. Sudah punya pekerjaan, kebetulan juga adik saya menikah dengan anggota TNI. Mengarahkan saya untuk tanah itu, sebelum bapak istilahnya bapak masih sehat, masalah itu segera diluruskan. Niat awal bapak itu menurut saya itu mulia, karena tanah itu disuruh sertifikat kan, haknya jelas, mau dihibahkan ke desa. Tapi dengan syarat orang satu desa harus dikumpulkan tahu semua, biar tidak jadi fitnah, awalnya begitu. Tetapi kenyataanya di hajatannya saudara saya, bapak difitnah jual tanah desa untuk beli tanah balai desa. Lha disitu bapak mulai sakit hati, dan akhirnya sampai sekarang masalah ini berjalan.” tutup putra Soerodjo.
( Angga )
















