Daerah  

271 Desa di Blora Ikuti Pelatihan P3PD: Tingkatkan Kapasitas dan Responsivitas Pemerintahan Desa

Blora ll buserindonews.com – Sebanyak 271 desa di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, aktif berpartisipasi dalam pelatihan Program Penguatan Pemerintahan dan Pembangunan Desa (P3PD) Komponen-1 yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa, Kementerian Dalam Negeri. Pelatihan ini merupakan upaya sistematis untuk meningkatkan kapasitas aparatur pemerintahan desa guna menghadapi tantangan pengelolaan desa yang semakin kompleks di era digital.

Pelatihan yang berlangsung dalam 10 gelombang ini melibatkan seluruh desa di delapan kabupaten di Jawa Tengah dan dilaksanakan di 14 hotel di area Semarang. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Jawa Tengah, Yayuk Windrati, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kelembagaan dan meningkatkan kapasitas penyelenggaraan pemerintahan desa dengan pendekatan yang inovatif dan responsif terhadap kebutuhan lokal.

“Pelatihan ini sangat penting dalam menghadapi tantangan pengelolaan pemerintahan desa saat ini. Tantangan seperti tata kelola yang belum memadai, kesiapan sumber daya manusia, dan kurangnya data pendukung harus segera diatasi agar pemerintahan desa dapat lebih efektif,” ujar Yayuk.

Peran Narasumber dan Pelaksanaan Pelatihan

Pelatihan ini melibatkan 80 narasumber dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan menghadirkan 120 peserta per gelombang, termasuk kepala desa, perangkat desa, dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Narasumber dari Blora yang berperan dalam pelatihan ini antara lain M. Amin Zainudin, Suhartini, dan Taufiqur Riza Subthy, yang berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka dalam pengelolaan desa.

Materi pelatihan yang disampaikan mencakup peningkatan kapasitas aparatur desa, penataan kelembagaan, penguatan sistem dan instrumen pemerintahan, serta penerapan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) dalam tata kelola desa. Melalui pelatihan ini, aparatur desa diharapkan dapat lebih memahami regulasi yang berlaku, meningkatkan keterampilan manajerial, dan mampu mengelola sumber daya desa secara optimal.

Menghadapi Tantangan Kepemimpinan Desa

Kepemimpinan di tingkat desa menghadapi tantangan yang semakin kompleks, seperti perlunya pengelolaan dana desa yang besar secara bertanggung jawab, memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang pesat, serta menghadapi isu-isu hukum dan integritas. Pelatihan P3PD ini bertujuan untuk membekali para pemimpin desa dengan keterampilan kepemimpinan yang berintegritas, inovatif, efektif, dan konstruktif.

“P3PD mendorong transformasi kepemimpinan desa yang berbasis pada kearifan lokal tetapi juga selaras dengan konsep kepemimpinan modern dan teknologi digital,” tambah Yayuk. Konsep kepemimpinan ini mencakup adopsi nilai-nilai kebangsaan seperti Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang diterapkan dalam konteks lokal desa.

Dampak Positif dan Harapan Ke Depan

Program P3PD ini diharapkan mampu mendorong desa untuk meningkatkan kualitas belanja, yang tidak hanya terfokus pada administrasi dan infrastruktur, tetapi juga pada pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi. Dengan demikian, desa dapat berkontribusi secara signifikan dalam pengurangan kemiskinan dan mewujudkan pembangunan desa yang maju, mandiri, dan sejahtera.

Pelatihan ini juga diharapkan dapat menjawab kebutuhan desa akan pemimpin yang mampu memanfaatkan teknologi informasi secara efektif dalam tata kelola pemerintahan dan pembangunan desa. “Dengan pelatihan ini, kami berharap aparatur desa lebih responsif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi dan dinamika sosial, serta mampu mengambil keputusan yang lebih baik berbasis data,” tutur Yayuk.

Pemanfaatan Teknologi Digital dalam Kepemimpinan Desa

Di era digital ini, pemimpin desa dituntut untuk menguasai teknologi informasi dan komunikasi. P3PD juga menekankan pentingnya kepemimpinan digital (e-leadership) yang memungkinkan aparatur desa untuk berkomunikasi secara efektif melalui media sosial, melakukan pemantauan secara virtual, dan mengelola pekerjaan tanpa batasan waktu dan ruang.

Dalam konteks ini, Yayuk menegaskan pentingnya pemimpin desa untuk memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan teknologi. “Pemimpin desa harus mampu mengintegrasikan teknologi digital dalam setiap aspek pemerintahan desa agar lebih efisien dan inklusif,” tambahnya.

Rekomendasi dan Langkah Ke Depan

Sebagai bagian dari rekomendasi, Yayuk menyarankan agar calon pemimpin desa mendapatkan pelatihan yang tepat, termasuk tentang teknologi informasi dan komunikasi terbaru. Pemimpin desa juga diharapkan memiliki orientasi yang kuat baik pada aspek kemanusiaan (people-oriented) maupun teknis (technically-minded).

Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan pemerintahan desa yang lebih kuat dan responsif, serta dapat menghadapi tantangan era digital dengan lebih baik. Dengan peningkatan kapasitas ini, diharapkan desa-desa di Jawa Tengah, khususnya Blora, dapat menjadi model bagi pengelolaan desa yang efektif, transparan, dan berdaya saing tinggi di masa depan.

(Angga)

Tinggalkan Balasan