Abuya KH Ghufron Al Bantani Turut Memberikan Tausiyah Pada Acara Khaul Syaikh KHR.TB Mansur Ciserang Plered Yang Ke – 43 Tahun 1443 H

  • Bagikan

Purwakarta || BIN – Kegiatan  Khaul ke-43 Syaikh KHR TB Mansur. “Ya, Al ‘Aalim Al ‘Ala’amah Al‘Arifbillah Syekh KHR. Tubagus Mansur Bin KH.Tubagus Abdul Karim RA di Ciserang Plered Purwakarta Jawa Barat, yang sudah biasa rutin dilaksanakan sebelum menjelang kedatangan bulan suci Ramadhan.

Ketua Pantia kegiatan Khaul tahun ini adalah sdr. Aa Hidayat, S.Pd.I, anak dari KH.TB A Sulaeman termasuk Ust.TB Abad Badruzaman, dimana beliau juga selaku Ketua Lembaga Yayasan Al-Manshuriyyah juga sebagai piimpinan Ponpes Al Manshuriyyah, Ciserang Plered Purwakarta Jawa Barat,

Kegiatan Khaul ini di dilaksanakan pada hari minggu. ( 20/003/2022 ) yang dihadiri oleh keluarga Besar SYAKIH. KHR.TUBAGUS MANSUR BIN KH. TUBAGUS ABDUL KARIM,r SYAKIH. KHR.TUBAGUS MANSUR BIN KH. TUBAGUS ABDUL KARIM, yang datang dari berbagi wilayah, dan dihadiri pula oleh segenap mustami kaum muslimin khusunya mustami dari kampung setempat dimana acara ini dilaksanakan.

Dalam pelaksanaannya acara Khaul dari awal sampai akhir acara  berjalan dengan tertib, aman dan lancar dan tetap dengan melaksanakan prokes yang benar.

Pada Khaul kali diantaranya dihadiri oleh Abuya KH Gufron Al Bantani cucunya Abuya KH.TB Nawawi Al Bantani RA, dimana kakeknya Abuya KH.TB Nawawi Al Bantani RA .

Waafatnya KH TB Nawawi Al Bantani RA  di Mekah Al Mukaromah, saat menjalankan tugas mulia dalam rangka syiar Islam, beliau ( kakeknya ) adalah seorang ulama besar dan sangat berpengaruh pada masa itu dan Auliyalloh, serta seorang Mujtahid/Mujahid, kemudian juga berjasa telah mengarang kurang lebih 500 kitab kuning dan juga sangat berjasa dalam mengembangkan syariat islam dengan cara mengedepankan tatanan berkehidupan yang toleran dengan cinta damai, kasih sayang antar sesama dipelosok negri ini.

Abuya KH Gufron Al Bantani juga pimpinan pengasuh Ponpes UNIQ Pancasila ( Qoyyidul Islam Nahdatul Ulama ) dikota Malang Jawa Timur, yang notabene ribuan santrinya/santriawatinya tidak dipungut biaya sepeserpun selama mondok untuk belajar ngaji berbagai kitab..Dipenghujung acara Khaul tersebut Abuya  berpesan agar kita senantiasa mencintai negeri ini yang disebut Nusantara dari Sabang sampai Merauke, dengan segala kehetrogenanya yang berpalsafahkan pancasila dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika,”  kemudian adanya negeri ini serta kemerdekaannya menurut Abuya “Kemerdekaan dan apa yang kita nikmati sekarang ini adalah salah satunya berkat perjuangan para ulama yang mempertaruhkan segalanya termasuk segenap jiwanya, dan hal ini sebagaimana keterangan tentang dalam salah satu Hadits, bahwa mencintai tanah air itu bagian dari iman, “Hubul Wathan Minal Iman,” sambungnya.

Pada lanjutan tausiahnya juga menyampaikan sekapur sirih tentang sejarah perjuangan Syaikh KHR.TB. Mansur. Abuya menuturkan. “Saya sampaikan kedatangnya saya kesini tanpa undangan, sebelum ke sini saya habis silaturahmi dan mengisi acara Ukuwah Tabligul Islamiyyah di Cigondewah Bandung di Komplek Keluarga Mama Ajengan KH.Thoha RA, kemudian dengan izin Alloh SWT bersama para santri kesini, dengan tujuan seja silaturahmi, dan saya dengan keluarga besar Syaikh Mansur yang mana masih ada ikatan emosional dan masih ada nasab silsilah, juga secara sanad keilmuan maupun duriyah, ” sambung Abuya.

Pada lanjutan Tausiyahnya  Abuya menyampaikan dengan tegas.  “ Medeka …..  Saya menyatakan dengan tegas umat muslim khususnya yang hadir disini, termasuk.pasukan sarung ( santri ) agar, selalu cinta damai yaitu dengan mencintai Allah, Rasul – ­Nya dengan ( bertakwa ) dan juga mengikuti segala apa yang diajarkan oleh kekasih Allah yang lainnya, dimana pengikut seperti para auliya yang telah menjalankan segala perintahnya termasuk salah satunya mencintai SYEKH KHR. TUBAGUS MANSUR BIN KH.TUBAGUS ABDUL KARIM. RA, dengan mengikuti ajaran ajarannya dimana beliau adalah seorang pejuang sejati yang ikut berjasa terhadap negeri ini dalam mempertahankan kemerdekaan juga dalam memerdekakan republik ini, disamping itu juga sebagai ulama Tasawuf dan Auliyalloh, serta beliau adalah seorang prajurit setia terhadap NKRI, yang turut ikut andil memberikan kontribusi salah satunya, beliau dipercaya sebagai ahli taktik perang termasuk juga yang mengomandoi pasukan Tentara Hizbullah dan TKR  dari tanah Sunda Pajajaran Jawa Barat untuk Jihad ke Medan pertempuran menuju Surabaya pada tanggal 10 November 1945, pada saat agresi Belanda ke II yang membonceng tentara sekutu Inggris (NICA)  yang dikenal dengan sebutan “arek arek Suroboyo”  yang disemangati oleh Bung Tomo. Syaikh TB Mansur ikut ke Surabaya bersama ulama besar yaitu KH. Abas RA dari Cirebon.

Pada tausiyah ini intinya Abuya menyampaikan bahwa kita selaku muslim agar selalu cinta damai dengan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari hari dan ajaran Pancasila merupakan falsafah Negara  (Dasar Negara) juga pandangan hidup bangsa Indonesia kemudian sebagai landasan Idiil dan itu bagian  bagian dari perintah Alloh sebagaimana firman-Nya dalam Al qur’an maupun Hadits, bahwa cinta tanah air dan cinta bangsa serta NKRI adalah tanggung  kita semua untuk menjaganya agar jangan sampai dirusak oleh orang orang yang berfaham radikalisme. untuk merubah dasar negara,” Sambungnya..

Syaikh KHR TB. Mansur Bin KH TB Abdul Karum RA menurut KHR.TB Abdul Fattah Memed Bin Syaikh KHR TB. Mansur, pada paparan yang ke-2, dimana terkait ada beberapa sumber dan keterangan yang didapat ataupun catatan catatan yang  didapatkan baik dari keluarganya yang masih hidup dan dari para Kiyai yang masih ada seperti KH. Nawawi, Kel.Besar KH. Ama Thoha, KHR Aden Cigondewah, KH.TB. Duyeh Loji SAYYID SEIF ALWI. BA’ALAWY. KHR.TB.Mansur adalah sosok ulama sekaligus waliyulloh yang ikut menyebarkan Syiar Agama Islam bersama para ulama lainnya seperti diantaranya dengan gurunya Mama Eyang Rende, dimana Syaikh KHR .TB.Mansur, bebesanan dengan Ama Eyang Rende RA. Syaikh KHR.TB. Mansur adalah seorang pejuang sejati pembela ibu pertiwi yang memperjuangkan juga kemerdekaan RI pada waktu memberikan. Adapun penghargaan dari pemerintah Indonesia waktu itu sebagai tentara veteran RI dengan pangkat terakhir Serma, beliau pernah dipercaya oleh panglima tertinggi untuk menjadi ahli taktik siasat berperang melawan penjajah Belanda dan masih banyak keterangan. Seperti apa kata Abuya KH TB Gufron Al Bantani, bahwa segala catatan para ulama dan pejuang, “saya Abuya punya kitab dan catatan catatan para ulama dan pejuang, termasuk catatan sepak terjang Syaikh KHR.TB. Mansur semasa hidupnya.” kutipnya.

Pada tausiyah sebelumnya yang disampaikan oleh KH.TB Usman Bakar dari Rancabango Subang dalam sebuah bahasannya adalah sebagai berikut, Kata KH.Usman Bakar, “saya  mengajak kepada seluruh yang hadir dihaplah ini untuk mengetahui dan memahami tentang pentingnya memperkokoh ketaqwaan dan keimanan terhadap Allah SWT dan agar tetap mencari ilmu dengan mekanisme yang benar sesuai tuntunan, karena segala pekerjaan itu harus sesuai ilmunya, apalagi menyangkut ibadah secara vertikal kepada sang Khaliq ( Habluminalloh ) harus benar benar menguasai ilmunya, agar selamat didunia maupun diakhirat, begitupun ilmu atau tata cara urusan hubungan antar sesama manusia ( Hablum Minanas ) harus memakai kaidah kaidah ilmu sesuai keilmuannya seperti urusan muamalah, dsb,.”paparnya.

Pada lanjutan penyampaian tausiahnya KH TB Usman Bakar juga menganjurkan agar  kita selalu mempererat tali silaturahmi hal ini sudah termaktub Al-Qur’an dan Hadist, tentang pentingnya memperkokoh tali silaturahmi, khususnya silaturahmi dalam keluarga juga dengan sesama muslim, sesama manusia lainnya serta tetap kita juga harus mengikuti aturan pemerintah sesuai perundang undangan yang berlaku berlandaskan Pancasila sebagai landasan Idiil dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusionalnya dan juga melaksanakan kewajiban sebagai khilafah untuk mendapatkan keberkahan kehidupan didunia maupun diakhirat kelak,” sambutnya.

Adapun paparan tausyiah yang ke-3, disampaikan oleh salah satu Kiyai muda dari Sumedang Jawa Barat, yaitu Al -Ustad  R. Idris putra dari Abuya KH Aden Bin KHR Muhidin Bin Abuya KHR Thoha RA.

Yang disampaikannya antara lain terkait Kewaliannya Syaikh KHR.TB. Mansur, mengenai, kewalianya itu sudah merupakan qudrah dan iradah – Nya dan sudah menjadi bagian dari ulama dan Auliya dan ada duriyyah kewaliyan dari silsilah keluarga para karuhunya, walaupun Syaikh KHR.TB. Mansur Bin KH TB Abdul Karim RA tidak seperti pada umumnya para wali, seperti banyak mengarang berbagai kitab kemudian punya pondok atau padepokan punya pondok santri.

Syaikh KHR.TB Mansur dalam penerapannya lebih kepada melakukan tindakan tindakan nyata yang para Auliya pendahulunya juga pernah dilakukan diantaranya penerapan ilmu makrifat dan ilmu tasawuf sangat tinggi, disisi lain sewaktu masih hidup beliau punya kelebihan yang secara akal tidak bisa terima, Itu menurut keterangan dari berbagai sumber yang didapatkan, bahwa itulah kelistimewaan yang dikaruniakan Alloh SWT kepada kekasihnya para auliya yang disebut dengan karomah.” Tutupnya.  ( Saepul Bahri, S.Ag Ka-Biro Buser Indonesia PWK }

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Buser Indonesia