Beltim || buserindonews.com – Mobil Dumptruk berwarna putih, tampak teronggok diam dalam kondisi terperosok dengan sebagian badannya miring dan berada dalam drainase yang cukup dalam sekitar 1 meter.
Kejadian dumpruck terperosok tersebut, pada Rabu 26 Januari 2022, di drainase ruas jalan protokol Manggar, Desa Kurnia, tepatnya didepan bangunan bertingkat dua, yang dikenal masyarakat manggar sebagai bekas kantor sebuah perusahaan tambang kaolin, pada era 90-an lalu.
Drainase selebar 1 meter-an dengan dalam kurang lebih sama dengan lebarnya, dengan penutup beton diatasnya, diketahui oleh khalayak ramai, baru saja selesai dikerjakan pada akhir tahun 2021 yang lalu.
Proyek pengerjaan drainase beserta penutup betonnya tersebut, dari penelusuran awak media, adalah merupakan proyek padat karya dengan sumber dana APBN, dengan PPK bernama ARIS.
Dari pengamatan awak media selama beberapa waktu, bahwasanya baik drainase maupun penutupnya, merupakan bagian daripada keseluruhan drainase yang dikerjakan sepanjang jalan tengah kabupaten Beltim, dari mulai Genting Apit hingga ujung Manggar.
Anehnya walaupun dikerjakan berbulan bulan, namun menurut pengakuan beberapa penggiat Sosial kontrol, seperti Suryadi Wahid Ketua DPC Ormas LAKI maupun Ade Kelana Ketua LSM FAKTA, tidak pernah melihat atau menemukan papan proyek yang seharusnya ada dan menjadi sumber informasi kepada masyarakat, tentang nama proyek, siapa pelaksananya, dari dinas mana, lamanya pengerjaan hingga besaran dan sumber dana.
“ Beton penutup drainasenya, saya lihat langsung di tempat kejadian dumptruck yang terperosok tadi, amat sangat rapuh, entah berapa ukuran takarannya, saya pegang dan remas pun hancur, terus pembesiannya, Cuma satu lapis dan jarak antar besinya cukup jauh, mungkin 20 an centimeter, selama pekerjaan proyek itu berlangsung, saya bolak balik ke Tanjung Pandan lewat jalan tengah, tak tahu letak papan proyeknya dimana” ujar Suryadi Wahid Ketua DPC ormas Laskar Anti Korupsi Indonesia.
Senada dengan Suryadi Wahid, Ade Kelana yang lebih dikenal dengan Bang Ade Ketua LSM FAKTA, yang mengaku juga melihat dari dekat kondisi tutup beton drainase tersebut, sangat menyayangkan atas apa yang terjadi.
“ seharusnya Proyek tersebut tidak dikerjakan asal asalan, bagaimana tidak?, papan proyek gak ada, mutu beton dan pembesiannya saya duga tidak memadai, ini seperti proyek siluman, siapa pelaksananya, dari satuan dinas mana, berapa nilai anggarannya, berapa lama waktu pengerjaannya, sumber dananya darimana, yang jelas dari info yang saya kumpulkan, proyek ini bukan dari sumber dana Kabupaten Beltim” terang Ade Kelana.
Baik Suryadi Wahid atau Ade Kelana, menghimbau kepada Aparat Penegak Hukum yang berkompeten, untuk melakukan pemeriksaan tentang pelaksanaan proyek dan juga mutu pekerjaan proyek tersebut.
“ itu baru satu titik saja, yang kita lihat seperti itu, belum bagian lainnya ditempat yang lain, jika terbukti tidak dilaksanakan sesuai standart yang menjadi ketentuan pelaksanaan dan tidak sesua spec, maka kita menduga ada terindikasi korupsi anggaran, dan kita akan buat laporan” pungkas Suryadi Wahid kepada awak media
Sementara itu Aris yang sedang berada di pangkalpinang dan merupakan PPK proyek tersebut, melalui sambungan telpon selularnya, mengaku telah mengetahui kejadian tersebut dan menerangkan bahwa memang konstuksi penutup beton diatas drainase tersebut, tidak diperuntukkan untuk beban yang berat, dan berjanji akan segera memperbaikinya.
(BENNI)
















