Palembang – Buserindonews.Com – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Provinsi Sumatera Selatan , hari Selasa 27 Februari 2024 melaksanakan Puncak Peringatan Hari Pekerja Indonesia (Harpekindo) ke-33. Dilaksanakan di kantor DPD KSPSI Kota Palembang acara tersebut dirangkai sekaligus dengan Hari Ulang Tahun (HUT) SPSI ke-51
Ketua DPD KSPSI Sumatera Selatan H.Zainal Arifin hulap. S.ip mengatakan, rangkaian perayaan peringatan Harpekindo dan HUT KSPSI hari ini diisi dengan berbagai aktivitas dan kegiatan.
“Dan hari ini, merupakan puncak peringatan, diakhiri dengan pemberian santunan kepada anak yatim. Mudah-mudahan kegiatan hari ini bukan yang pertama dan terakhir, tapi harapannya tahun 2025 pun kita menyelenggarakan hal yang sama,” ujar H.zainal kepada wartawan saat di lokasi.
Keluarga besar KSPSI Sumatera Selatan bersyukur bisa menyelenggarakan Harpekindo sekaligus HUT KSPSI. Acara ini terlaksana berkat kerjasama SPSI dengan pemerintah daerah dan Pihak Polda Sumsel tentunya
H.Zainal mengakui pasca reformasi pihaknya sedikit abai terhadap peringatan HUT Dan Harpekindo, karena lebih mengutamakan peringatan Hari Buruh Internasional atau dikenal dengan istilah May Day. “Sesuai dengan Keppres Nomor 9 Tahun 1991 maka ada semacam kewajiban bagi kita bersama untuk melaksanakan peringatan itu,” ucap H. Zainal.
KSPSI Provinsi Sumatera Selatan sepakat dengan pemerintah daerah untuk mereaktualisasi kembali pelaksanaan Harpekindo dan HUT KSPSI. Pada peringatan Harpekindo dan HUT SPSI, pihaknya juga mencanangkan tiga hal.
“Yaitu pertama di 2024 pihaknya mencanangkan sebagai hari peningkatan kualitas SDM, kedua peningkatan produktivitas, dan ketiga adalah peningkatan kesejahteraan tanpa gaduh,” katanya.
Pada kesempatan ini H.zainal mengakui bahwa pasca reformasi serikat pekerja lebih cenderung mengedepankan aksi unjukrasa. Tapi output produk yang dihasilkan dinilai tidak optimal
“Semuanya lelah, pengusaha lelah, pekerja lelah tapi output produknya kelihatannya tidak optimal. Atas dasar itu kita perlu mendeklarasikan ulang hubungan antara pekerja, pengusaha dan pemerintah dengan nilai-nilai yang cenderung nilai-nilai bangsa kita,” ujarnya.
Nilai yang universal tersebut, terang H.zainal yang pertama adalah kemitraan antara pekerja, pengusaha dan pemerintah sebagai mitra bukan musuh. Kedua adalah tradisi musyawarah untuk menyelesaikan masalah, atau bukan turun ke jalan tapi musyawarah kekeluargaan antara serikat pekerja dan pengusaha.
“Ketiga gotong royong yang maknanya adalah memikul beban secara bersama-sama, dan menikmati secara bersama-sama. Jadi memikul beban meningkatkan produksi dan produktivitas adalah tugas dan tanggung jawab pekerja dan pengusaha serta pemerintah, tapi kesejahteraannya pun harus menikmati secara bersama-sama,”Pungkasnya.
















