Blora ll buserindonews.com – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora Edi Widayat menjelaskan bahwa, Puskesmas Randublatung akan di bangun menjadi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), saat ditemui di tempat kerjanya, Senin (23/10/2023).
Salah satu pekerjaan rumah dalam bidang kesehatan yakni pembangunan RSUD, di puskesmas lama Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora. Hal itu sebagai bentuk komitmen Pemkab Blora dalam pemerataan pelayanan kesehatan di Kabupaten Blora.
‘’Sebagai bentuk komitmen pemerataan di bidang kesehatan, kami akan mengubah Puskesmas lama Randublatung menjadi RSUD,” ucap Edi.
Edi Widayat menerangkan pembangunan puskesmas lama menjadi Rumah sakit Randublatung tipe D tersebut tahun 2023 ini anggaranya dari (APBD) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, dijelaskan untuk pembangunannya Dinkes mendapat anggaran Rp 10 Miliar.
‘’Tahun ini untuk pembangunan fisik lanjutan, mendapat anggaran dari APBD sejumlah Rp 10 Miliar,’’ jelasnya.
Terkait puskesmas lama menjadi Rumah Sakit Randublatung itu ada tiga kegiatan proyek antara lain. “Renovasi gedung rawat jalan, pembuatan ruang penunjang, dan pembangunan gedung instalasi bedah sentral,” kata Edi.
Rincian pembangunannya gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) dengan anggaran yang tertera di papan proyek Rp5.915.934.145 Miliar.
Penyedia jasa, CV. Ravi Jaya Berkarya, Konsultan Pengawas, CV. Karya Inti Konsultan, direncanakan selesai di 24 Desember 2023.
Pekerjaan pembangunan gedung penunjang RS Randublatung, dengan anggaran yang tertera dipapan proyek Rp2.896.339.895 Miliar, penyedia Jasa, CV. Tribhakti, konsultan pengawas, CV. Karya Inti Konsultan. Direncanakan akan selesai 25 Desember 2023.
Kemudian pekerjaan renovasi gedung rawat jalan, Rp1.120.663.000 Miliar. Penyedia jasa, CV. Widyatama, konsultan pengawas, CV. Cipta Rasa Karsa, untuk pekerjaan ini ditargetkan selesai 20 November 2023.
Disinggung progres pekerjaan rumah sakit Randublatung, Edi menerangkan bahwa pekerja’an sudah mencapai 48%.
Untuk pengisian SDM termasuk tenaga kesehatan, Dokter spesialis apakah sudah dipersiapkan, Edi menjawab, “Bahwa kita sudah siapkan dan kita sudah koordinasi terus menerus dengan BKD, karena berkaitan dengan penempatan pegawai adalah BKD,” ucap Edi.
Kendati demikian, Edi menjelaskan Rawat inap RSUD tidak mengadopsi dari rumah sakit manapun, kita mempunyai kewenangan sendiri. Untuk syarat RSUD, rumah sakit tipe apapun,syaratnya ada di Permenkes-nya, bukan adopsi. Secara Nasional rumah sakit tipe A sampai Z itu sama,” jelasnya.
Terpisah penilaian dari masyarakat Randublatung Latifah, terkait dengan puskesmas yang akan dijadikan RSUD di wilayah Kecamatan Randublatung. Latifah menilai bahwa puskesmas Randublatung dalam soal pelayanan tidak ramah dan cenderung mengecewakan.
“Hanya saja tolong kepada pihak puskesmas, saya dan masyarakat Randublatung ingin bisa mengandalkan puskesmas ini, baik dari segi pelayanan fisik maupun secara verbal. Agar puskesmas ini bisa menjadi harapan kami kedepannya. Semoga bapak ibu bisa lebih bijaksana dalam mencerna keluhan ini, atau mungkin ke depan kami difasilitasi oleh pihak puskesmas terkait dengan bagaimana cara menyampaikan kritik maupun saran agar dapat tersampaikan dengan baik oleh pihak puskesmas Randublatung, sebagai salah satu tolak ukur pembenahan pelayanan faskes ini dimasa depan,” pesan Latifah.
Kepala Dinkes Edi Widayat menanggapi terkait keluh kesah masyarakat Randublatung, untuk pelayanan yang sering mengecewakan dari puskesmas yang akan menjadi RSUD di Randublatung, segera dilakukan pembenahan.
“Saya siap dan membantu memperbaiki, terimakasih atas kritikan dan masukannya, dan segera saya akan menyuruh Kabid pelayanan untuk sidak terkait masalah pelayanan ini.” Tegas Edi.
Kepala Dinkes Edi Widayat mengatakan, akhir tahun ini fisik selesai, secara bertahap akan terus dilakukan pembenahan.
‘’Targetnya di Januari 2024 akan operasional. Soal SDM, akan diambilkan dari beberapa Puskesmas, termasuk dari dua rumah sakit yang ada, yakni dari RSU Blora dan RSU Cepu,‘’ tutup Edi.
( Angga )
















