Daerah  

PDAM Blora Bidik 600 Pelanggan Baru, Laba 2026 Diproyeksi Rp2,5 Miliar

Blora ll buseridonews.com – Jumlah pelanggan aktif Perumda Air Minum Tirta Amerta Kabupaten Blora hingga 2026 mencapai sekitar 25.600 sambungan rumah (SR). Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

‎Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Amerta Blora, Yan Riya Pramono, mengatakan pertumbuhan pelanggan menjadi salah satu indikator perkembangan pelayanan perusahaan daerah tersebut.

‎“Untuk jumlah pelanggan PDAM tahun 2026 ini ada peningkatan kalau dibandingkan dengan tahun 2025. Total pelanggan aktif saat ini ada sekitar 25.600 sambungan rumah,” ujar Yan, Selasa (18/8/2026).

‎Meski jumlah pelanggan terus bertambah, PDAM masih menghadapi kendala keterbatasan produksi dan ketersediaan air baku. Kondisi tersebut membuat pelayanan belum bisa menjangkau seluruh masyarakat yang membutuhkan air, terutama ketika musim kemarau.

‎Yan mengatakan tambahan pasokan air baku diharapkan berasal dari optimalisasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Cepu. Sistem tersebut direncanakan menambah kapasitas sekitar 100 liter per detik pada 2028.

‎Selain itu, PDAM Blora juga diproyeksikan memperoleh alokasi air baku dari Waduk Randugunting sekitar 100 liter per detik bersama PDAM Pati dan Rembang.

‎“Dari Waduk Randugunting kita dapat 100 liter per detik, juga yang di Cepu 100 liter per detik. Nanti harapannya bisa menjangkau masyarakat yang sangat membutuhkan air, tetapi masih menunggu,” jelasnya.

‎Di sisi lain, pelanggan yang berada di ujung jaringan maupun wilayah dengan kontur tanah tinggi masih menghadapi persoalan tekanan air. Beberapa pelanggan bahkan mendapatkan aliran air pada malam hari atau melalui sistem penggiliran.

‎Meski demikian, Yan memastikan secara kuantitas kebutuhan air rumah tangga pelanggan saat ini masih relatif mencukupi. PDAM secara bertahap juga berencana menambah booster atau pompa pendorong di sejumlah titik ujung pelayanan.

‎Menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung cukup panjang, PDAM menyiapkan skema pembagian air apabila terjadi penurunan ketersediaan air baku.

‎Sejumlah sumber air yang menjadi perhatian antara lain Sungai Ngampel, Waduk Tempuran serta sumur-sumur di wilayah selatan Blora, seperti Randublatung dan Menden.

‎“Kalau saat ini masih mencukupi dan aman. Kita nanti melihat kondisi ke depannya. Kalau memang diperlukan, mau tidak mau harus membagi air atau bergiliran agar kebutuhan pelanggan tetap tercukupi,” katanya.

‎Kehilangan Air Masih Tinggi

‎Selain persoalan air baku, PDAM Blora mengakui tingkat kehilangan air atau unaccounted for water (UFW) masih cukup tinggi.

‎Salah satu upaya yang dilakukan untuk menekan kehilangan air adalah mempercepat penggantian meter air pelanggan yang sudah rusak atau berusia puluhan tahun.

‎Yan menyebut pihaknya menargetkan penggantian sekitar 1.500 meter pelanggan setiap tahun. Dengan estimasi biaya sekitar Rp350 ribu per meter, anggaran yang disiapkan mencapai lebih dari Rp500 juta.

‎Namun, anggaran tersebut belum seluruhnya terserap karena keterbatasan tenaga di lapangan yang juga harus menangani penyambungan pelanggan serta perbaikan jaringan.

‎“Mulai tahun ini ke depan kita genjot untuk penggantian meter. Meter yang sudah puluhan tahun memang secara bertahap harus kita ganti,” ujarnya.

‎Untuk tarif air, PDAM masih mempertahankan tarif dasar sebesar Rp3.400 per meter kubik. Yan memastikan hingga saat ini belum ada rencana kenaikan tarif.

‎Menurutnya, peningkatan jumlah pelanggan dan penutupan kebocoran air menjadi strategi perusahaan untuk menjaga pendapatan sekaligus mengimbangi kenaikan biaya operasional.

‎“Kalau menaikkan tarif kan semua orang bisa, tetapi akan menyulitkan pelanggan. Strategi kita menambah pelanggan dan menutup kebocoran air,” katanya.

‎Kualitas Air Masih Jadi Perhatian

‎Persoalan kualitas air juga masih menjadi perhatian, khususnya ketika musim kemarau. PDAM masih menerima keluhan pelanggan terkait kualitas air maupun debit yang kecil.

‎Yan menjelaskan, sumber air baku yang berasal dari Sungai Bengawan Solo menghadapi tantangan saat musim kemarau. Salah satunya adanya polutan dari wilayah hulu yang dapat memengaruhi kualitas air baku.

‎Kondisi tersebut membuat proses pengolahan air menjadi lebih berat. PDAM pun meningkatkan penggunaan bahan kimia seperti PAC dan kaporit untuk membantu proses pengolahan.

‎PDAM juga melakukan uji coba penggunaan karbon aktif untuk mengurangi warna air. Namun, hasilnya belum menunjukkan dampak signifikan.

‎Sementara itu, penggunaan lumpur dalam proses pengolahan disebut cukup membantu mengurangi warna air, meski belum mampu menghilangkannya secara keseluruhan.

‎“Kami selaku Direktur PDAM mohon maaf kepada pelanggan. Kami tetap berupaya, tidak pasrah. Inovasi-inovasi tetap kita lakukan,” kata Yan.

‎Target Tambah 600 Pelanggan

‎Dari sisi pengembangan usaha, PDAM Blora menargetkan penambahan sekitar 600 sambungan rumah pada 2026. Penambahan pelanggan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan sekaligus laba perusahaan.

‎Pada 2025, PDAM mencatat laba sekitar Rp2,024 miliar, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp1,292 miliar.

‎Pada 2026, perusahaan menargetkan laba sekitar Rp2,4 miliar. Namun, hingga semester pertama, kinerja perusahaan disebut telah melampaui target anggaran. PDAM optimistis laba hingga akhir tahun dapat mencapai sekitar Rp2,5 miliar.

‎Meski telah mencatat laba, PDAM belum dapat memberikan kontribusi dividen kepada Pemerintah Kabupaten Blora secara rutin. Hal itu disebabkan perusahaan masih memiliki saldo akumulasi kerugian masa lalu.

‎Yan menyebut saldo akumulasi kerugian yang sebelumnya mencapai sekitar Rp15 miliar kini tersisa sekitar Rp7,6 miliar.

‎Dengan target laba sekitar Rp2,5 miliar pada 2026 dan peningkatan laba pada tahun-tahun berikutnya, PDAM menargetkan saldo akumulasi kerugian tersebut dapat ditutup sekitar 2029.

‎“Kalau saldo akumulasi rugi sudah tertutup, tahun berikutnya sudah bisa memberikan dividen,” pungkasnya.



‎(Angga)

Tinggalkan Balasan