Karawang ||Buserindonews.com – Dalam kehidupan nyata, manusia hidup saling berinteraksi, berkomunikasi, dan bercengkerama dalam berbagai hal. Kondisi tersebut sering kali memperlihatkan egosentrisme setiap individu, bahkan membentuk kultur yang nyata dalam menyusun suatu kelompok kekuatan untuk menunjukkan jati dirinya. Lepas dari itu, terkadang nilai-nilai kejujuran yang seharusnya menjadi amanah dalam pergaulan sehari-hari justru dikesampingkan.
Fenomena tersebut muncul karena sikap arogansi dan egosentrisme, tidak mau ada orang yang derajat kehidupannya lebih tinggi daripada dirinya. Restorasi nilai kejujuran sangat perlu dilakukan untuk mengembalikan nilai-nilai kehidupan yang baik dalam setiap interaksi.
Literasi agama telah memberikan ajaran bahwa pergaulan yang didasari kejujuran merupakan amanah ilahiah dari Tuhan Yang Maha Esa. Ketika manusia memiliki sifat itu dalam interaksi kehidupan, maka hidupnya akan dinamis, penuh kesantunan, jauh dari arogansi dan egosentrisme, serta saling menghormati dan menyayangi sesama.
Kejujuran adalah sifat yang tidak mudah diimplementasikan dalam karakter sehari-hari, tetapi harus terus diupayakan untuk diterapkan dalam setiap pergaulan. Cermin kejujuran membuat seseorang akan terus dipercaya dalam berbagai hal karena kepercayaan adalah buah dari kejujuran. Kejujuran pun merupakan moral yang baik dan memiliki nilai mental yang kuat.
Kejujuran dalam menunjukkan kebenaran dan kesalahan, kejujuran dalam membentuk _character building_, kejujuran dalam bersikap dan berkomunikasi, kejujuran yang membongkar kemunafikan dan lingkaran setan, dan lain-lain. Semua itu menandakan bahwa kejujuran adalah amanah yang harus tegak dalam berbagai aspek kehidupan.
(Al-Faqir H. Ujang Tohidin)
















