Karawang || buserindonews.com – Keluarga adalah sekelompok orang yang berkumpul dan memiliki ikatan batin yang tak terpisahkan satu sama lain. Bingkai keluarga ini tentu memiliki struktur yang disesuaikan dengan hak dan tanggung jawab masing-masing. Ada kepala keluarga sekaligus sebagai _top leader_ atau manajer, ada ibu rumah tangga sekaligus sebagai motor, motivator, dan pelaksana dalam keluarga, serta ada anggota keluarga (anak-anak). Struktur keluarga ini menandakan betapa agungnya sebuah organisasi yang dibentuk dari rasa kasih sayang satu sama lain.
Konservasi keluarga harus terus terjalin tanpa adanya keretakan. Nilai sosial dan budaya dalam keluarga perlu dijaga dan dibina agar terus berjalan harmonis dan dinamis dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawadah, warahmah. Persoalan dalam keluarga akan terjadi ketika nilai-nilai sosial sudah sirna. Contoh sederhana, seorang kepala keluarga selalu membanding-bandingkan reputasi sosial istrinya dengan istri orang lain, atau seorang kepala keluarga yang kurang bijak terhadap anak-anaknya, dan masih banyak lagi.
Dari sudut budaya, ketika budaya dalam keluarga tidak dibina, itu pun akan menimbulkan permasalahan yang mendasar. Contoh sederhana, budaya hedonisme dalam keluarga akan menggerus budaya kesederhanaan dalam kehidupannya. Oportunis sebagai awal dari munculnya hedonisme, ketika itu terjadi maka akan muncul sikap arogansi dalam keluarga tanpa melihat nilai-nilai etika, rasa toleransi dan saling menghormati nyaris tidak ada sama sekali.
Dari sekian realitas yang ada, maka ketahanan keluarga akan rapuh dan lapuk, jauh dari terwujudnya cita-cita tujuan keluarga, yaitu membentuk keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Konservasi dalam ketahanan keluarga, baik dari faktor sosial maupun budaya, perlu dibingkai dengan konsep _mindset_ yang benar. Paling tidak ada lima hal:
1. Tidak terfokus pada faktor materi terlebih dahulu.
2. Lebih mengutamakan rasa memiliki yang penuh kasih sayang.
3. Nilai-nilai etika sosial dan budaya perlu diterapkan sehingga satu sama lain merasakan indahnya kebersamaan.
4. Budaya kerja sama, saling bekerja, dan saling melengkapi perlu dilakukan.
5. Membudayakan ideologi keluarga Islami perlu dijaga.
Mudah-mudahan ada makna sebagai bagian dari refleksi jati diri keluarga.
_(Oleh: Al-Faqir H. Ujang Tohidin)_
















