Karawang || buserindonews.com – Manusia dalam sifat kehidupan sehari-hari sering kali bermetamorfosis, baik perilaku maupun sikapnya. Hal ini membuktikan bahwa manusia bersifat natural kultural di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Bagi manusia yang kebiasaannya berperilaku dan bersikap kontraproduktif antara pernyataan dengan kenyataan, maka hal itu akan berpengaruh pada diri dan lingkungannya.
Orang bisa bermuka dua demi prestise. Orang bisa tampak baik di depan kita, tetapi di luar justru menjelek-jelekkan kita. Ketika metamorfosis ini terjadi, maka hal tersebut lebih berbahaya. Sifat dan sikap tersebut ibarat seekor hewan bunglon yang ketika diam di tempat yang hijau, maka warnanya akan menjadi hijau juga, tetapi ketika diam di tempat lain, maka warnanya akan berubah dan akan meninggalkan warna awal, bahkan menjelekkan warna awal yang dipakainya. Inilah karakter dari orang-orang yang munafik.
Persoalan mendasarnya adalah tidak adanya konsistensi dan keistiqamahan dari sikap tersebut. Manusia pada dasarnya memiliki sikap baik dan buruk, benar dan salah. Namun, ketika manusia memiliki perangai buruk, maka itulah jalan yang salah yang tentu perlu diarahkan dan dikembalikan ke jalan yang benar sesuai tuntunan syariah.
Kemudian, edukasi bagi orang munafik agar tidak menjadi karakter yang menetap adalah dengan terus menuntun dan membina dengan metode pendekatan karakter orang tersebut. Sebab, ketika hal itu tidak dilakukan, maka akan menjadi bumerang dan berbahaya bagi dirinya, orang lain, dan lingkungannya.
Prof. Dr. Zakiah Daradjat dalam buku _Psikologi Jiwa Agama_ menyebutkan kriteria orang munafik, selain suka berbohong dan tidak amanah, adalah lebih mengedepankan prestise daripada prestasi.
Edukasi ini menggambarkan betapa bahayanya metamorfosis sifat munafik dalam kehidupan sehari-hari. _Wallahu a’lam bishawab._
_(H. Ujang Tohidin)_
















