Masihkah Kita Menghirup Angin Segar Hari Esok?

Karawang || buserindonews.com – Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, usia kita secara matematis bertambah, tetapi sesungguhnya usia kita berkurang. Di sisa-sisa umur ini, tentu bagi orang yang beriman akan selalu bermuhasabah diri, seberapa persen sisa umur ini bisa bermakna di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Sangat rugi sekali ketika manusia tidak memanfaatkan sisa umur itu, apalagi jika terbuang sia-sia tanpa makna. Manusia sering kali lupa diri karena dibutakan oleh kenikmatan dunia dan jabatan yang diembannya, menganggap bahwa dunia adalah segala-galanya. Liberalisme dan hedonisme dijadikan sebagai prinsip dalam mengarungi kehidupan.

Tak terbersit pun perasaan, mungkinkah besok masih bisa menghirup angin segar? Nurani bagi orang yang beriman tentu dijadikan sebagai _mindset_ bahwa usia yang menentukan adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang absolut mengatur segala-galanya.

Kontra dinamika dalam hidup antara kaum liberalis-hedonis dan kaum agamis-spiritualis merupakan pergulatan yang mencolok. Di satu sisi mereka hidup sama di dunia, tetapi satu versi menganggap bahwa hidup yang sebenarnya adalah di dunia ketika arwah atau nyawa masih menempel di badan. Sebagian lagi menganggap dunia hanya persinggahan, hidup yang sebenarnya adalah di akhirat.

Dua versi yang berbeda ini menuntut manusia untuk berpikir jernih dan sehat, karena akhir dari kehidupan adalah mati atau meninggalkan segala urusan duniawi. Yang menjadi persoalan adalah, sudah siapkah kita untuk menghadapi itu? Bekal apa yang akan dibawa ketika kita dijemput oleh Malaikatul Maut?

Prof. Dr. Quraish Shihab mengatakan dalam makalah diniyahnya, _”Orang yang bakal merugi adalah orang yang tidak mempersiapkan hari kematian.”_

Edukasi ini menuntut kita untuk senantiasa bermuhasabah, memperbanyak amal saleh, dan meningkatkan kualitas ibadah, baik dalam dimensi ilahiah maupun dimensi insaniah, karena semua itu adalah sebaik-baik bekal di akhirat kelak.

Jangan menjadi manusia yang merugi, baik di dunia maupun di akhirat kelak. _Wallahu a’lam._

(Oleh: H. Ujang Tohidin)

Tinggalkan Balasan