Daerah  

Internalisasi Nilai-Nilai Agama dalam Dunia Nyata

Karawang || buserindonews.com Agama merupakan tempat berlabuhnya keyakinan seseorang, menjadi penuntun dalam setiap aspek kehidupan. Dari aspek konteks keyakinan itu, agama menjadikan ideologi batin yang tertanam dalam hati serta jiwanya, sehingga ketika nilai-nilai agama terusik atau termarjinalkan, maka sering kali muncul penolakan bahkan aksi demi membela dan mempertahankan keyakinan tersebut.

Di dunia kehidupan yang nyata, terkadang nilai-nilai agama sering kali terkesampingkan bahkan nyaris hilang karena faktor-faktor tertentu. Contoh sederhana, faktor kebutuhan dalam mempertahankan hidup yang semakin terjepit karena ekonomi yang sulit, sifat serakah sering kali dilakukan. Nilai-nilai amanah yang seharusnya dipupuk dan terpatri dalam kehidupan hilang tergerus oleh kebutuhan dan keserakahan.

Prof. Dr. Zaenal Abidin, http://M.Si., salah satu guru besar UIN SGD Bandung, menyampaikan, _”Ketika nilai-nilai amanah hilang, maka manusia ibarat seperti harimau yang selalu haus dan lapar, menerkam apa pun yang penting terpenuhi rasa haus dan lapar tersebut.”_

Edukasi ini memberikan gambaran bahwa keserakahan bisa menghalalkan segala cara. Internalisasi nilai-nilai agama sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia sehingga manusia tidak memiliki sifat hewani. Seharusnya manusia memiliki sifat yang mulia, tenggang rasa, amanah, guyub, tidak terjadi permusuhan, dan saling sayang menyayangi.

Dalam dunia nyata, jika dilihat dari psikologi kejiwaan, Prof. Dr. Zakiah Daradjat mengatakan, _”Kecenderungan manusia dari sudut terpenuhinya kebutuhan itu lebih dominan daripada pengamalan agama.”_

Kontekstual tersebut memberikan titik terang bahwa manusia cenderung mengutamakan dunia jauh lebih utama daripada agama. Maka dari fenomena itu diperlukan solusi agar tidak terjadi _over expectation_. Paling tidak ada beberapa hal:

1. Perlu terus-menerus ada pembinaan dan bimbingan rohani.
2. Dibiasakan hidup sederhana tanpa kemewahan.
3. Perlu dibina dalam kajian-kajian literasi agama tentang realitas kehidupan.

Tiga hal ini sebagai bagian dari solusi agar hidup di kehidupan nyata sesuai dengan nilai-nilai agama dan lebih berkah. _Wallahu a’lam._

(Oleh: H. Ujang Tohidin)

Tinggalkan Balasan