Daerah  

HIKMAH MENJELANG MAGRIB,  Lelah Mengayuh Roda Kehidupan Tanpa Bersyukur

Karawang || buserindonews.com – Dunia memang menggiurkan dengan segala aneka ragam kenikmatan yang disuguhkan bagi para penikmat kehidupan. Manusia bisa lupa diri ketika sudah terkelabui dan terhipnotis dengan sejuta kenikmatan duniawi, bahkan terus-menerus mengejarnya tanpa batas dan tanpa lelah. Yang dirasakan seolah hidup akan terasa selama-lamanya.

Padahal sesungguhnya manusia lupa, ketika mengejar dan mengayuh kenikmatan hidup di dunia tanpa batas dan tanpa lelah, manusia akan merasakan pada titik nadir yang sesungguhnya, yaitu lelah mengejar kenikmatan hidup tanpa berkah karena kehilangan ruh dari keberkahan itu, yaitu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat yang diberikan.

Prof. Dr. Amsal Bahtiar dalam orasi ilmiahnya mengatakan, _”Orang yang mengejar kenikmatan duniawi tanpa bersyukur ibarat manusia memakan gula tetapi tidak terasa manisnya.”_

Edukasi tersebut memberikan sebuah aksiologi hidup: apa artinya memakan gula tanpa rasa manis, karena substansi gula itu adalah manis. Begitu juga dalam mengejar kenikmatan di dunia, apalah artinya kenikmatan itu bila dirasakan tanpa keberkahan.

Solusi untuk bisa ke arah sana hanya satu kunci, yaitu *”Bersyukur”*.

Orang kaya akan kehilangan nikmat kekayaan tanpa bersyukur dan jauh dari keberkahan. Sampel realnya: kaya tetapi dalam kehidupan terus merasa kurang, akhirnya tercipta keserakahan dalam segala hal.

Orang yang memiliki jabatan akan hilang dari nikmat dan keberkahan jabatannya manakala jabatan itu memiliki sifat ananiyah dengan gaya firaunisme yang melekat, sehingga muncul sikap sombong, angkuh, dan takabur. Rasanya akulah yang mampu, akulah yang pantas, dan masih banyak lagi sampel real dalam kehidupannya.

Realitas seperti itu menuntut kita untuk selalu bermuhasabah dan merevitalisasi gaya hidup dalam mengejar kenikmatan dunia agar hidup tidak kehilangan ruhnya, keberkahannya, dan selalu merasakan nikmat yang sesungguhnya.

Mudah-mudahan bermanfaat sebagai bagian dari refleksi hidup.

_(Oleh: Al-Faqir H. Ujang Tohidin)_

 

Tinggalkan Balasan