Karawang || buserindononews.com – Hidup manusia di dunia dengan dua pilihan: beramal baik atau beramal jelek. Dua pilihan ini menuntut manusia untuk memilih dan menentukan arah hidupnya. Ketika manusia memilih dan menentukan jalan yang baik, maka itu adalah pilihan terbaik. Tetapi ketika jalan terbaik itu sudah menjadi pilihan, tidak jarang manusia sering keliru dalam pelaksanaannya.
Manusia rajin menebar kebaikan, menolong orang dalam kesusahan, tetapi terkadang dengan amalnya ia ingin mendapat pujian dari orang lain serta ingin dibangga-banggakan. Padahal ketika itu terjadi, maka sia-sialah amal itu tanpa makna apa pun di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Manusia dengan bangganya merasa bahwa dialah yang mampu menolong, sementara yang lain dianggap tidak memiliki apa-apa. Dengan jabatannya ia membantu orang lain, tapi dengan bantuannya kemudian merasa bangga, lalu masuk ke ranah takabur dan sifat riya yang terpatri dalam hati dan sikapnya.
Prof. Dr. Amsal Bachtiar, Guru Besar UIN Jakarta, dalam orasi ilmiah diniyahnya mengatakan bahwa, _”Orang yang bangga dengan menebar kebaikan kemudian masuk ke ranah sifat riya, maka manusia itu memiliki penyakit hati.”_
Tazkirah ini memberikan edukasi kepada kita bahwa orang yang memiliki sifat riya berarti tidak sehat jiwanya. Ini menunjukkan bahwa proses kuratif penyakit hati itu harus segera disembuhkan karena termasuk penyakit jiwa.
Dalam syariat Islam, orang yang menebar kebaikan tidak mesti harus bangga, tetapi harus ikhlas dalam menjalankannya, karena keikhlasan seseorang dalam beramal akan diterima amalnya manakala didasari dengan nilai hati yang ikhlas. Membantu orang tanpa harus meminta pamrih, membantu orang tanpa harus digembar-gemborkan kepada orang lain, membantu orang tidak harus membangga-banggakan diri dan ingin dibanggakan orang lain.
Sikap seseorang ketika menebar kebaikan justru seharusnya tidak merasa sedang menebar kebaikan. Memberikan sedekah contohnya, dengan tangan kanan sebaiknya tangan kiri jangan sampai tahu. Semakin banyak menebar kebaikan, maka semakin tawadhu, merasa rendah diri dan tidak sombong.
Konsep Dinul Islam dalam menjaga amal supaya bermakna, paling tidak harus melakukan beberapa hal. Syekh Ibrahim Al-Laqani dalam kitab _Jawahir at-Tauhid_ mengatakan:
1. Lakukan amal dengan niat ikhlas.
2. Jauhi niat ingin dipuji orang ketika kita beramal dan menebar kebaikan.
3. Jauhi sifat sombong, takabur, riya, dan lain-lain, karena itu akan menjatuhkan makna amal yang kita lakukan sehingga tidak bermakna apa-apa di hadapan Tuhan.
4. Mengharap rida Allah SWT.
Literasi ini menjadi penuntun hidup manusia dalam melakukan amal dan menebar kebaikan. _Wallahu a’lam.
Penulis Adalah Ketua IPARI Provinsi Jawa Barat : Al-Faqir H. Ujang Tohidin
















