Ngabungbang Tradisi Bulan Mulud Di Tatar Sunda

  • Bagikan

 

Cianjur ||  Buser Indonesia -Ngabungbang menjadi tradisi turun tumurun bagi masyarakat Sunda, yang digelar setiap tanggal 14 Mulud (Rabiul Awal) tahun hijriah. Bagi masyarakat Cianjur selatan, tradisi ngabungbang lebih dikenal dengan istilah “Empat belasan”, karena acara nya digelar tepat pada malam ke 14 bulan Mulud.

Sedangkan, istilah ngabungbang itu sendiri berasal dari kata “nga” dan “bungbang”. “Nga” berarti ngahijikeun atau menyatukan. “Bungbang” berarti ngabersihkeun atau membersihkan. Jika diartikan, ngabungbang adalah ritual mandi suci dengan niat menyatukan cipta, rasa, dan karsa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan sebagai upaya membuang perilaku tidak baik, lahir dan batin dengan bermunajat kepada Allah SWT, memohon ampunan, keridhaan dan keselamatan serta memohon dikabulkan nya hajat.

Secara khusus, ngabungbang atau empat belasan menjadi momen bagi para lelaku spiritual untuk melatih, menambah dan mengasah keilmuan yang sudah dipelajari.

Seperti yang rutin dilaksanakan di Majelis Ar-riyadhah, sebuah komunitas tawasul di Kp. Cikulina, Desa Sukaraharja, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur. Komunitas tawasul dibawah pengasuh Abah Suntana sudah biasa melaksanakan acara empat belasan sejak belasan tahun silam.

Ditempat ini, acara empat belasan juga sekaligus memperingati Maulid Nabi, sebagai bentuk rasa syukur dan ta’dzim atas dilahirkan nya Nabi Besar Muhammad SAW. Adapun acara empat belasan dimulai dengan pembacaan tawasul, dzikir, doa-doa, mandi di sungai dan acara khusus lain nya.

Disamping itu, acara empat belasan juga sebagai wasilah untuk mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah islamiyah. ( Mukhlis Hidayat )

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Buser Indonesia