Bupati Arief Rohman Pecat Direktur Umum dan Pemasaran BPR Bank Blora Artha Secara Tidak Hormat, Ada Apa ??

Blora ll buserindonews.com – Direktur Umum dan Pemasaran, Badan Usaha Milik Daerah ( BUMD), BPR Bank Blora Artha, Sigit Arie Heryanto resmi dipecat, dan di berhentikan secara tidak hormat. Hal itu dilontarkan langsung Bupati Blora Arief Rohman di rumah Dinas Bupati. Jumat, (21/6/24).

Pasalnya, direktur tersebut melakukan gratifikasi setelah pengkreditan dan termasuk pelanggaran berat.

Bupati Blora selaku Kuasa Pemilik Modal (KPM), pihaknya juga sudah mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dalam rangka menyikapi tentang BPR Blora Artha.

“Kami memutuskan untuk memberhentikan dengan tidak hormat, kita pecat karena menyangkut pelanggaran yang sudah dibuat oleh yang bersangkutan,” terangnya saat konferensi pers.

Terpisah, Ketua Dewan Pengawas (Dewas) Perusahaan Umum Daerah (Perumda) BPR Bank Blora Artha Slamet Pamuji menyampaikan, pihaknya telah menonaktifkan dan membekukan gaji oknum direksi tersebut.

‘’Jadi Sigit itu melakukan gratifikasi setelah melakukan pengkreditan. Setelah ditelusuri, bukan di dalam skema bank, tapi di luar. Jadi kami kecolongannya disitu,’’ terangnya.

Sementara itu, Dirut BPR Bank Blora Artha, Arief Syamsuhuda mengaku telah melaporkan hal ini ke OJK pusat, kata Arief, akan menurunkan tim penyidik dari Kejaksaan dan Polri.

“Selain menerima tindakan dari KPM (Kuasa Pemilik Modal) juga mendapat penanganan dari OJK. Sanksi pidananya tetap berjalan. Walaupun sudah dipecat tidak akan mempengaruhi pidana yang sudah dilakukan,” ucap Arief.

Dia menyebut Sigit menerima gratifikasi sebanyak 5 persen dari setiap pencairan kredit.

“Sempat di-BAP, dia tidak pernah mengaku. Katanya di angka 5 persen dari persentase, kita tidak tahu ya,” jelas Arief.

Pihaknya tidak memerinci pasti gratifikasi yang diperoleh. Sebab, masih dalam penyelidikan.

“Karena dilakukan di luar jangkauan kami jadi kami tidak bisa mendeteksi. Kalau di dalam prosedurnya sudah benar, sehingga kami anggap baik-baik saja. Ternyata dia melakukan itu di luar,” bebernya.

Arief mengaku pada pertengahan tahun 2023 sudah mendengar adanya desas-desus dugaan gratifikasi itu. Hanya saja tidak ada yang melapor.

“Kita mendeteksi itu akhir tahun. Ada suara tapi tidak ada bukti itu bulan Januari. Tapi ketika ada gejala-gejala yang mungkin ada tanda-tanda laporan tidak resmi itu di Juni, pertengahan 2023,” jelasnya.

Dia menyebut Sigit telah melakukan pelanggaran kode etik dan mencoreng kredibilitas banknya.

“Yang bersangkutan melakukan adanya dugaan pelanggaran kode etik, yaitu berupa menerima atau meminta imbalan terkait pemberian kredit yang diterima setelah pencairan kredit,” jelasnya.

“Ini yang sangat dilarang keras di kami bahkan semuanya yang melakukan giat tersebut akan dilakukan tindakan tegas. Karena akan berpengaruh pada etika profesi maupun moral. Ini berdampak pada reputasi kita, saya harap perbuatan 1 oknum ini jangan sampai berpengaruh secara keseluruhan,” pungkasnya.

(Angga)

[wp_reusable_render id='61694']

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *